Selasa, 21 Februari 2017

Renungan Harian Pdt.Lucius T.B.Pasaribu, S.Th

SEMUANYA UNTUK KEMULIAAN TUHAN

Kolose 1:16, "Karena di dalam Dialah telah diciptakan segala sesuatu, yang ada di sorga dan yang ada di bumi, yang kelihatan dan yang tidak kelihatan, baik singgasana, maupun kerajaan, baik pemerintah, maupun penguasa; segala sesuatu diciptakan oleh Dia dan untuk Dia".

Masih ingat syair lagu KJ 64: 1,
"Bila kulihat bintang gemerlapan
dan bunyi guruh riuh kudengar,
Ya Tuhanku, tak putus aku heran
melihat ciptaanMu yang besar.
Refrain:
Maka jiwakupun memujiMu:
“Sungguh besar Kau, Allahku!”
Maka jiwakupun memujiMu:
“Sungguh besar Kau, Allahku!”

Lagu ini menggambarkan alam ini memancarkan kemuliaan Allah sehingga kita  memuji Tuhan. Unsur-unsur yang ada ini masih yang kelihatan bagaimana pula yang tidak kelihatan? Segala sesuatu baik yang kelihatan maupun yang tidak kelihatan semuanya adalah memancarkan kemuliaan Tuhan. Melihat alam sekitar kita pasti bersyukur atas segala sesuatu yang ada pada kita dan sekitar kita karena semua itu diciptakan Tuhan. Tidak ada satu pun baik yang ada di sorga maupun di buni yang tidak diciptakan oleh Dia. Semunya bersumber pada Dia dan semuanya untuk kemuliaan Kristus.

Renungan ini mengingatkan perihal kekuasaan, singgasana, kerajaan dan pemerintah. Umumnya manusia memiliki pemikiran bahwa kekuasaan akan membawanya kepada  kemuliaan. Puncak kejayaan dianggap ketika memiliki kekuasaan.  Oleh kekuasaan seseorang bisa menentukan dan melakukan sesuatu apapun yang dikehendakinya. Apalagi raja dalam konteks pemahaman jaman Perjanjian Baru. Kaisar Romawi misalnya dianggap sebagai titisan dewa matahari yang harus disembah. Pemahaman ini telah melanggar hakekat manusia itu sendiri sebagai ciptaan. Manusia telah mengangkat dirinya menjadi Allah. Inilah yang ditentang oleh Paulus dalam Kolose 1:16 ini. Segala sesuatu yang ada di sorga maupun di bumi, yang kelihatan dan yang tidak kelihatan semuanya adalah ciptaan bukan pencipta. Tuhanlah pencipta segala sesuatu.

Salah satu yang membuat manusia jatuh dalam dosa adalah me jadi sama dengan Allah. Iblis terus membujuk agar memakan buah kehidupan karena ketika memakannya akan sama dengan Allah. Manusia menjadi sama dengan Allah adalah pengingkaran hakekat dirinya sebagai ciptaan.

Maka renungan di pagi ini seluruh kekuasaan kerajaan, singgasana, kemuliaan dan seluruh kejayaan manusia adalah bersumber dari sang pencipta dan semua itu diciptakan adalah untuk Dia. Maka dengan demikian jika ada orang memiliki kuasa, jabatan dan yang ada pada diri kita janganlah sombong, tinggi hati dan melupakan Tuhan. Syukurilah bahwa semuanya itu ada oleh karena Dia. Biarlah dengan seluruh yang ada pada kita; kuasa, harta, hidup kita dan segala sesuatu yang kita lakukan semuanya untuk memuliakan Tuhan.

Selamat pagi Amang-Inang dan selamat berkarya bersama Tuhan Yesus.

Senin, 20 Februari 2017

Renungan Harian Pdt.Lucius T.B.Pasaribu, S.Th

TANDA PERJANJIAN

Kejadian 9:13 “Busur-Ku Kutaruh di awan, supaya itu menjadi tanda perjanjian antara Aku dan bumi.”

Menurut pengetahuan umum, pelangi adalah fenomena alam yang berupa optik dan meteorologi yang memiliki warna-warni yang sejajar terlihat ada di langit. Pelangi terjadi bila cahaya mengalami pembiasan saat cahaya matahari terkena air hujan. Itu sebabnya pelangi terlihat pada saat hujan dan disertai cahaya matahari bahkan di antara hujan dan sinar matahari lalu sinar matahari ada di belakang pengamat sehingga akan terjadi garis lurus antara matahari, pengamat, dan busur pelangi dan akan terbentuk.

Namun, dalam nas ini kita tidak membahas pelangi atau busur dari Allah menurut ilmu alam itu. Sesudah bencana air bah berakhir dan tanah menjadi kering, Allah mengadakan perjanjian dengan Nuh, keturunannya dan segala makhluk hidup yang bersama-sama dengan mereka. Allah berfirman: Tidak ada yang hidup yang akan dilenyapkan oleh air bah, dan tidak akan ada lagi air bah untuk memusnahkan bumi. "Busur-Ku Kutaruh di awan, supaya itu menjadi tanda perjanjian antara Aku dan bumi. Allah mencetak busurNya di langit menjadi tanda perjanjian hidup bagi manusia dan segala makhluk hidup. Pelangi menjadi "tanda perjanjian-Nya".

Busur bisanya merupakan alat perang dan lambang balas dendam, oleh Allah telah dibaharui menjadi lambang perdamaian dan kemurahan hatiNya. Untuk melawan badai awan-awan hitam, busur Allah diubah menjadi "pelangi" (rainbow) oleh sinar kemurahan hati dan berkat Allah. Di sana Allah menyatakan diriNya berada dalam perdamaian abadi.

Pelangi tidak hanya disebut di peristiwa air bah, tapi juga dalam kisah Yehezkiel (Yehezkiel 1: 28), di kisah Yohanes di Patmos saat menerima Wahyu akan kesukaran di masa  akhir (Wahyu 4: 3). Dari sana kita peroleh tiga makna pelangi: (1) Sebagai simbol perjanjian Ilahi, bahwa Injil seperti pelangi menjangkau semua makhluk dari ujung sampai ke ujung bumi. (2) Sebagai simbol kemuliaan Allah, dalam pelangi nyata (Yehezkiel 1:28). Tujuh warna pelangi: merah (cinta, kuasa), jingga (sehat dan kuat), kuning (sempurna, ceria), hijau (hidup,subur), biru (setia, damai), nila (rajani, agung) dan ungu (mewah, mulia), tersusun harmoni jadi tanda keagungan Tuhan. (3) Sebagai warna di sekitar tahta Kerajaan Surga, seperti penglihatan Yohanes: pelangi di sekitar tahta Kerajaan Surga.

Tuhan sudah memberi kita tanda akan kemuliaanNya. Dia setia dan kasih karuniaNya mencakupi segala ciptaan. Kemuliaan yang indah hadir dalam kekudusan dan kekekalanNya di kehidupan kita. Mari yakini Tuhan yang setia mengasihi-memeliharakan. Dia tidak pernah melupakan kita. Amin.