Huria Kristen Batak Protestan (HKBP) Sutoyo Jln. LetJend. Sutoyo, Jakarta Timur - Indonesia
Minggu, 04 Juni 2017
Sabtu, 03 Juni 2017
"LIDAH SEORANG MURID" Renungan Harian Pdt.Lucius T.B.Pasaribu, S.Th
LIDAH SEORANG MURID
Yesaya 50:4, "Tuhan ALLAH telah memberikan kepadaku lidah seorang murid, supaya dengan perkataan aku dapat memberi semangat baru kepada orang yang letih lesu. Setiap pagi Ia mempertajam pendengaranku untuk mendengar seperti seorang murid".
Jika kita ditanya apakah ciri seorang murid? Tentu belajar, gali ilmu, displin dan taat pada guru. Semua itu dilakukan untuk menimba ilmu dan ilmu yang didapatkan kelak dapat berguna membangun diri dan berguna bagi orang lain. Ada konsep yang keliru memahami pendidikan di Indonesia, pendidikan seolah mendapatkan ijazah dan syarat melamar pekerjaan. Dampaknya orang berlomba-lomba beli sertifikat kesarjanaan hingga doktoral. Dari falsafah pendidikan tidak ada gunanya lembaran sertifikat, namun manfaat ilmu yang digali untuk membangun diri dan pengabdian kepada masyarakat. Apa artinya deretan gelar di depan dan belakang nama, namun kapasitas tak ada. Syukurlah bagi orang percaya, hal ini diingatkan agar kita mengembangkan diri bagai seorang murid karena kita diberi lidah seorang murid.
Lidah seorang murid, suatu istilah yang dipakai oleh Yesaya dalam misi yang diemban oleh hamba Allah. Menjadi seorang hamba Allah harus menempa diri menjadi seorang murid yang mengasah pendengaran. Murid kebanggaan biasanya akan rajin belajar dan displin. Murid diterjemahkan dari kata "disciple", dari kata inilah turun katan disiplin. Jadi murid harus disiplin. Disiplin untuk belajar, disiplin dalam mengelola waktu dan hal-hal yang membangun diri.
Ada beberapa catatan menarik dari renungan hari ini tentang lidah seorang murid. PERTAMA, missinya belajar adalah untuk melayani dan mengabdi untuk orang lain. Dia mengasah diri agar mampu membawa kesejukan bagi orang yang lelah, memberi semangat baru bagi orang yang letih lesu. Bagaimana itu bisa terjadi? Dengan mempertajam pendengaran. Ibarat teko, tak mungkin teko yang kosong memberikan kesejukan. Teko itu harus berisi air baru dia dapat mengisi gelas-gelas kosong yang hendak diteguk orang yang haus. Demikian dengan spiritualitas seorang hamba Tuhan, harus mempertajam pendengaran, pendengaran akan firman Tuhan yang mengisi spiritualitasnya. Selalu mengisi diri dengan firman sehingga sumbernya tak pernah kering untuk menyampaikan siraman rohani yang menyegarkan.
Lidah seorang murid, mengapa tidak lidah seorang guru yang cakap mengajar dan orator ulung yang pandai berkata-kata meyakinkan orang? Pelayanan bukanlah soal kata-kata, atau kemampuan meyakinkan orang lain, namun soal mendengarkan dan mendalami firman dan firman itu bekerja untuk membangun iman. Iman timbul karena pendengaran akan firman Tuhan (Roma 10:17).
Kita adalah murid-murid Tuhan Yesus yang selalu haus akan firmanNya karena firman Tuhan adalah sumber kehidupan. Jadilah murid yang setia mengikuti jejak kaki Yesus, membawa kesejukan bagi yang penat dan semangat baru bagi orang yang letih lesu agar memperoleh pengharapan. Amin.
Yesaya 50:4, "Tuhan ALLAH telah memberikan kepadaku lidah seorang murid, supaya dengan perkataan aku dapat memberi semangat baru kepada orang yang letih lesu. Setiap pagi Ia mempertajam pendengaranku untuk mendengar seperti seorang murid".
Jika kita ditanya apakah ciri seorang murid? Tentu belajar, gali ilmu, displin dan taat pada guru. Semua itu dilakukan untuk menimba ilmu dan ilmu yang didapatkan kelak dapat berguna membangun diri dan berguna bagi orang lain. Ada konsep yang keliru memahami pendidikan di Indonesia, pendidikan seolah mendapatkan ijazah dan syarat melamar pekerjaan. Dampaknya orang berlomba-lomba beli sertifikat kesarjanaan hingga doktoral. Dari falsafah pendidikan tidak ada gunanya lembaran sertifikat, namun manfaat ilmu yang digali untuk membangun diri dan pengabdian kepada masyarakat. Apa artinya deretan gelar di depan dan belakang nama, namun kapasitas tak ada. Syukurlah bagi orang percaya, hal ini diingatkan agar kita mengembangkan diri bagai seorang murid karena kita diberi lidah seorang murid.
Lidah seorang murid, suatu istilah yang dipakai oleh Yesaya dalam misi yang diemban oleh hamba Allah. Menjadi seorang hamba Allah harus menempa diri menjadi seorang murid yang mengasah pendengaran. Murid kebanggaan biasanya akan rajin belajar dan displin. Murid diterjemahkan dari kata "disciple", dari kata inilah turun katan disiplin. Jadi murid harus disiplin. Disiplin untuk belajar, disiplin dalam mengelola waktu dan hal-hal yang membangun diri.
Ada beberapa catatan menarik dari renungan hari ini tentang lidah seorang murid. PERTAMA, missinya belajar adalah untuk melayani dan mengabdi untuk orang lain. Dia mengasah diri agar mampu membawa kesejukan bagi orang yang lelah, memberi semangat baru bagi orang yang letih lesu. Bagaimana itu bisa terjadi? Dengan mempertajam pendengaran. Ibarat teko, tak mungkin teko yang kosong memberikan kesejukan. Teko itu harus berisi air baru dia dapat mengisi gelas-gelas kosong yang hendak diteguk orang yang haus. Demikian dengan spiritualitas seorang hamba Tuhan, harus mempertajam pendengaran, pendengaran akan firman Tuhan yang mengisi spiritualitasnya. Selalu mengisi diri dengan firman sehingga sumbernya tak pernah kering untuk menyampaikan siraman rohani yang menyegarkan.
Lidah seorang murid, mengapa tidak lidah seorang guru yang cakap mengajar dan orator ulung yang pandai berkata-kata meyakinkan orang? Pelayanan bukanlah soal kata-kata, atau kemampuan meyakinkan orang lain, namun soal mendengarkan dan mendalami firman dan firman itu bekerja untuk membangun iman. Iman timbul karena pendengaran akan firman Tuhan (Roma 10:17).
Kita adalah murid-murid Tuhan Yesus yang selalu haus akan firmanNya karena firman Tuhan adalah sumber kehidupan. Jadilah murid yang setia mengikuti jejak kaki Yesus, membawa kesejukan bagi yang penat dan semangat baru bagi orang yang letih lesu agar memperoleh pengharapan. Amin.
Jumat, 02 Juni 2017
"KASIH ALLAH DAN KETABAHAN KRISTUS" Renungan Harian Pdt.Lucius T.B.Pasaribu, S.Th
"KASIH ALLAH DAN KETABAHAN KRISTUS"
2 Tesalonika 3:5, "Kiranya Tuhan tetap menujukan hatimu kepada kasih Allah dan kepada ketabahan Kristus".
Amnesia atau lupa ingatan adalah salah satu penyakit yang dapat menyerang siapa saja. Apalagi di usia tua perlahan semua orang akan mengalaminya. Namun sungguh tak lazim jika amnesia menyerang pada usia produktif. Menurut para ahli, amnesia ini bisa dibagi dua: (1) lupa akan apa yang pernah terjadi pada dirinya di masa lalu dan (2) tidak dapat menangkap atau merekam informasi yang tejadi di sekitarnya. Istilahnya daya rekamnya pudar.
Apa kaitannya penyakit amnesia ini dalam renungan ini? Ini kelebihan Paulus yang sangat kaya dalam pemikiran dan nasehatnya membimbing jemaat. Dalam keadaan jemaat mula-mula yang menghadapi pergumulan dan berbagai upaya propaganda, jangan sampai lupa dua hal yaitu: kasih Allh dan ketabahan Kristus. Pentingnya kedua hal ini sampai-sampai dia menyampaikan: kiranya Tuhan menunjukkan hati jemaat kepada kedua hal tersebut Jadi dalam keadaan apapun setiap jemaat harus mengingat kedua hal itu dalam hidupnya, baik susah dan senang, duka dan suka, dalam berkabung atau memberi penghiburan. Kasih Allah dan ketabahan Kristus menjadi kekuatan bagi orang percaya menjalani dan menghadapi pergumulan.
Marilah kita lihat kedua hal ini yang tidak boleh dilupakan oleh setiap orang percaya.
1. Kasih Allah adalah 'agape', kasih yang tulus, kasih yang tidak menuntut balas. Perbuatan baik yang ikhlas dan dari ketulusan hati tanpa ada harapan akan ada balas jasanya. Itulah yang dilakukan Allah dalam menyelamatkan manusia. Allah rela mengorbankan anakNya yang tunggal hingga mati di kayu salib demi menyelamatkan kita. 'Agape' adalah pengorbanan, mengorbankan milik yang paling berharga dipersembahkan untuk menyelamatkan orang lain. Satu ayat alkitab menjelaskan kasih agape itu adalah Yoh 3:16.
Allah adalah kasih, kasihNya menetap dan tanpa menuntut balas. Hal inilah dasar bagi setiap orang percaya melakukan kasih dan perbuatan baik. Perbuatlah kebaikan dengan tulus dan jangan bersungut-sungut karena Allah telah melakukanNya untuk kita. KasihNya yang tulus sumber kekuatan, inspirasi dan motivasi bagi kita agar tetap melakukan kasih.
2. Ketabahan Kristus. Hal ini mengingatkan kita akan ketabahan dalam menjalani penderitaan- penderitaan yang dialami oleh jemaat mula-mula tiada bandingnya dengan penderitaan yang dialami oleh Yesus Kristus hingga mati di kayu salib. "Via dolorosa", jalan ke salib yang begitu pahit, penuh sengsara namun Dia tidak berhenti di tengah jalan. Kristus tabah menjalaninya hingga berakhir di titik perhentian di Golgatha. Semua itu dilakukan karena kasihNya yang besar untuk menyelamatkan manusia. Kristus menderita dan tabah melakukan semua itu demi keselamatan manusia.
Ketabahan menghasilkan tahan uji dan tahan uji berbuahkan hasil yaitu memperoleh mahkota kehidupan. Jika hidup mendesak hingga membuat dada sesak teladanilah ketabahan Kristus.
Kiranya Tuhan menunjukkan hatimu kepada Kasih Allah dan Kebatabahn Kristus. Renungan ini mengingatkan kita agar tidak melupakan hal yang paling hakiki dalam iman. Mensyukuri kasih Allah yang tulus mendorong kita untuk tetap hidup dalam kasih. Mengingat ketabahan Kristus membuat kita memiliki daya tahan dalam menjalani penderitaan.
Oleh karena itu waspadalah akan amnesia iman, apapun keadaan yang kita alami jangan lupa akan kasih Allah dan ketabahan Kristus. Dalam keadaan susah dan bergumul berat tetaplah berbuat kasih karena kita telah menikmati kasih Allah yang agape. Jika penderitaan menimpa dan membuat kita harus mengalami kesedihan hati, tetaplah tabah meniru ketabahan Kristus. Amin.
2 Tesalonika 3:5, "Kiranya Tuhan tetap menujukan hatimu kepada kasih Allah dan kepada ketabahan Kristus".
Amnesia atau lupa ingatan adalah salah satu penyakit yang dapat menyerang siapa saja. Apalagi di usia tua perlahan semua orang akan mengalaminya. Namun sungguh tak lazim jika amnesia menyerang pada usia produktif. Menurut para ahli, amnesia ini bisa dibagi dua: (1) lupa akan apa yang pernah terjadi pada dirinya di masa lalu dan (2) tidak dapat menangkap atau merekam informasi yang tejadi di sekitarnya. Istilahnya daya rekamnya pudar.
Apa kaitannya penyakit amnesia ini dalam renungan ini? Ini kelebihan Paulus yang sangat kaya dalam pemikiran dan nasehatnya membimbing jemaat. Dalam keadaan jemaat mula-mula yang menghadapi pergumulan dan berbagai upaya propaganda, jangan sampai lupa dua hal yaitu: kasih Allh dan ketabahan Kristus. Pentingnya kedua hal ini sampai-sampai dia menyampaikan: kiranya Tuhan menunjukkan hati jemaat kepada kedua hal tersebut Jadi dalam keadaan apapun setiap jemaat harus mengingat kedua hal itu dalam hidupnya, baik susah dan senang, duka dan suka, dalam berkabung atau memberi penghiburan. Kasih Allah dan ketabahan Kristus menjadi kekuatan bagi orang percaya menjalani dan menghadapi pergumulan.
Marilah kita lihat kedua hal ini yang tidak boleh dilupakan oleh setiap orang percaya.
1. Kasih Allah adalah 'agape', kasih yang tulus, kasih yang tidak menuntut balas. Perbuatan baik yang ikhlas dan dari ketulusan hati tanpa ada harapan akan ada balas jasanya. Itulah yang dilakukan Allah dalam menyelamatkan manusia. Allah rela mengorbankan anakNya yang tunggal hingga mati di kayu salib demi menyelamatkan kita. 'Agape' adalah pengorbanan, mengorbankan milik yang paling berharga dipersembahkan untuk menyelamatkan orang lain. Satu ayat alkitab menjelaskan kasih agape itu adalah Yoh 3:16.
Allah adalah kasih, kasihNya menetap dan tanpa menuntut balas. Hal inilah dasar bagi setiap orang percaya melakukan kasih dan perbuatan baik. Perbuatlah kebaikan dengan tulus dan jangan bersungut-sungut karena Allah telah melakukanNya untuk kita. KasihNya yang tulus sumber kekuatan, inspirasi dan motivasi bagi kita agar tetap melakukan kasih.
2. Ketabahan Kristus. Hal ini mengingatkan kita akan ketabahan dalam menjalani penderitaan- penderitaan yang dialami oleh jemaat mula-mula tiada bandingnya dengan penderitaan yang dialami oleh Yesus Kristus hingga mati di kayu salib. "Via dolorosa", jalan ke salib yang begitu pahit, penuh sengsara namun Dia tidak berhenti di tengah jalan. Kristus tabah menjalaninya hingga berakhir di titik perhentian di Golgatha. Semua itu dilakukan karena kasihNya yang besar untuk menyelamatkan manusia. Kristus menderita dan tabah melakukan semua itu demi keselamatan manusia.
Ketabahan menghasilkan tahan uji dan tahan uji berbuahkan hasil yaitu memperoleh mahkota kehidupan. Jika hidup mendesak hingga membuat dada sesak teladanilah ketabahan Kristus.
Kiranya Tuhan menunjukkan hatimu kepada Kasih Allah dan Kebatabahn Kristus. Renungan ini mengingatkan kita agar tidak melupakan hal yang paling hakiki dalam iman. Mensyukuri kasih Allah yang tulus mendorong kita untuk tetap hidup dalam kasih. Mengingat ketabahan Kristus membuat kita memiliki daya tahan dalam menjalani penderitaan.
Oleh karena itu waspadalah akan amnesia iman, apapun keadaan yang kita alami jangan lupa akan kasih Allah dan ketabahan Kristus. Dalam keadaan susah dan bergumul berat tetaplah berbuat kasih karena kita telah menikmati kasih Allah yang agape. Jika penderitaan menimpa dan membuat kita harus mengalami kesedihan hati, tetaplah tabah meniru ketabahan Kristus. Amin.
Kamis, 01 Juni 2017
"WASPADAI PERKATAAN YANG MEMECAH BELAH" Renungan Harian Pdt.Lucius T.B.Pasaribu, S.Th
"WASPADAI PERKATAAN YANG MEMECAH BELAH"
1 Samuel 24:9, "Lalu berkatalah Daud kepada Saul: "Mengapa engkau mendengarkan perkataan orang-orang yang mengatakan: Sesungguhnya Daud mengikhtiarkan celakamu?".
Dalam berbagai kasus ada konflik tanpa mengetahui akar permasalahan yang sesungguhnya. Dua sahabat bisa saling membenci dan bahkan saling menyakiti. Marah dan membenci karena prasangka atau data yang failed yang disampaikan orang ketiga. Tanpa membenarkan konflik, tentu kita semua tak berterima jika difitnah dan dijelek-jelekkan orang lain. Kadang tanpa berpikir panjang langsung naik darah, emosi dan menimbulkan pertengkaran hingga kebencian mendalam. Padahal hanya ulah "sipahit lidah" orang ketiga sengaja memprovokasi dan membuat gaduh. Dalam bahasa Batak tipe orang ini disebut dengan: "dila pamolamola" artinya lidah yang pemecah-belah yang menyebarkan gosip dan fitnah. Lidah pemecah-belah ini biasanya: menangkap perkataan orang dan menyampaikan perkataan dengan maksud agar seseorang itu membeci yang dimusuhinya bahkan jika perlu mengarang cerita yang macam-macam. Banyak korban perselisihan bahkan hingga perceraian keluarga karena ulah semacam itu. Benar apa yang disampaikan oleh Yakobus bahwa agar hati-hati terhadap lidah (Yakobus 3). Jagalah perkataan yang membuat orang lain tersinggung atau perkataan atau cerita yang membuat orang membenci orang lain.
Perselisihan Saul dan Daud begitu mendalam hanya karena perkataan orang. Awalnya tidak ada permusuhan dari mereka berdua, namun perkataan orang yang memuji Daud ketika mengalahkan Goliat, dimana para perempuan menyanyikan: "Saul mengalahkan musuh beribu-ribu, namun Daud berlaksa-laksa." Nyanyian itu membuat Saul geram dan marah pada Daud. Jika kita telisik, sebenarnya Daud telah hadir sebagai penolong dan pembantu Saul. Daud mengalahkan Goliat yang membuat Saul gemetar dan ketakutan. Ketika Roh Tuhan undur sari Saul, mengalami goncangan kejiwaan, namun Daud memainkan kecapi dan menyanyikan Mazmur sehingga pikirannya tenang.
Selain nyanyian yang membuat Saul geram itu, rupanya ada juga disekitar Saul yang meracuni pikirannya bahwa Daud adalah musuh bahkan berencana membunuh Saul. Saul pun makin geram hingga mengejar dengan tiga ribu pasukan untuk menangkap dan membunuh Daud. Suatu ketika Saul memasuki padang gurun En Gedi, masuk ke gua. Tanpa disadari Saul, Daud memotong punca jubahnya. Sebagai simbol sesungguhnya nyawanya telah di tangan Daud jika dia mau. Namun Daud tidak menjamah Saul karena Daud sadar bahwa Saul adalah orang yang diurapi Tuhan. Pengikut Daud mendesak hendak membunuh Saul namun Daud tampil memerintahkan agar tak menyentuh Saul yang diurapi itu. Ketika Saul hendak beranjak, Daud menyampaikan kekeliruan Saul terhadapnya: mengapa mendengar perkataan yang menghasut dan memfitnah Daud. Hingga Saul terperdaya bahwa Daud musuhnya yang berikhtiar mencelakainya. Atas peristiwa ini Saul menyesali dirinya, menangis dan menyesal. Daud telah melakukan yang baik pada dirinya padahal dirinya selalu merencanakan kejahatan dan upaya mencelakainya.
Anda pernah difitnah, dihasut dan mungkin disakiti oleh orang lain. Tidak ada kesempatan membela diri atau menjelaskan perkara yang sebenarnya. Bersabar dan berdoa, waktunya akan tiba sesuai dengan rencana Tuhan bahwa kebenaran akan terungkap secara terang benderang seperti kisah Daud di atas. Itu pelajaran PERTAMA dari nas renungan ini. Pelajaran KEDUA dari renungan hari ini mengingatkan kita agar lebih hati-hati berbicara apalagi sikap dan perbuatan yang dapat membakar kebencian dan amarah. Ada banyak kebenaran yang perlu kita tahu, namun tak perlu disampaikan pada orang lain jika itu dapat membakar amarah seperti menyulut api pada bensin. Bahkan kita harus menjadi orang yang membawa kesejukan, merajut dan mempertebal kebersamaan dan persahabatan. Jauhkanlah diri dari "dila pamolamola" (lidah pemecah-belah), namun jadilah pembawa kesejukan dan kedamaian bagi sesama. Amin.
1 Samuel 24:9, "Lalu berkatalah Daud kepada Saul: "Mengapa engkau mendengarkan perkataan orang-orang yang mengatakan: Sesungguhnya Daud mengikhtiarkan celakamu?".
Dalam berbagai kasus ada konflik tanpa mengetahui akar permasalahan yang sesungguhnya. Dua sahabat bisa saling membenci dan bahkan saling menyakiti. Marah dan membenci karena prasangka atau data yang failed yang disampaikan orang ketiga. Tanpa membenarkan konflik, tentu kita semua tak berterima jika difitnah dan dijelek-jelekkan orang lain. Kadang tanpa berpikir panjang langsung naik darah, emosi dan menimbulkan pertengkaran hingga kebencian mendalam. Padahal hanya ulah "sipahit lidah" orang ketiga sengaja memprovokasi dan membuat gaduh. Dalam bahasa Batak tipe orang ini disebut dengan: "dila pamolamola" artinya lidah yang pemecah-belah yang menyebarkan gosip dan fitnah. Lidah pemecah-belah ini biasanya: menangkap perkataan orang dan menyampaikan perkataan dengan maksud agar seseorang itu membeci yang dimusuhinya bahkan jika perlu mengarang cerita yang macam-macam. Banyak korban perselisihan bahkan hingga perceraian keluarga karena ulah semacam itu. Benar apa yang disampaikan oleh Yakobus bahwa agar hati-hati terhadap lidah (Yakobus 3). Jagalah perkataan yang membuat orang lain tersinggung atau perkataan atau cerita yang membuat orang membenci orang lain.
Perselisihan Saul dan Daud begitu mendalam hanya karena perkataan orang. Awalnya tidak ada permusuhan dari mereka berdua, namun perkataan orang yang memuji Daud ketika mengalahkan Goliat, dimana para perempuan menyanyikan: "Saul mengalahkan musuh beribu-ribu, namun Daud berlaksa-laksa." Nyanyian itu membuat Saul geram dan marah pada Daud. Jika kita telisik, sebenarnya Daud telah hadir sebagai penolong dan pembantu Saul. Daud mengalahkan Goliat yang membuat Saul gemetar dan ketakutan. Ketika Roh Tuhan undur sari Saul, mengalami goncangan kejiwaan, namun Daud memainkan kecapi dan menyanyikan Mazmur sehingga pikirannya tenang.
Selain nyanyian yang membuat Saul geram itu, rupanya ada juga disekitar Saul yang meracuni pikirannya bahwa Daud adalah musuh bahkan berencana membunuh Saul. Saul pun makin geram hingga mengejar dengan tiga ribu pasukan untuk menangkap dan membunuh Daud. Suatu ketika Saul memasuki padang gurun En Gedi, masuk ke gua. Tanpa disadari Saul, Daud memotong punca jubahnya. Sebagai simbol sesungguhnya nyawanya telah di tangan Daud jika dia mau. Namun Daud tidak menjamah Saul karena Daud sadar bahwa Saul adalah orang yang diurapi Tuhan. Pengikut Daud mendesak hendak membunuh Saul namun Daud tampil memerintahkan agar tak menyentuh Saul yang diurapi itu. Ketika Saul hendak beranjak, Daud menyampaikan kekeliruan Saul terhadapnya: mengapa mendengar perkataan yang menghasut dan memfitnah Daud. Hingga Saul terperdaya bahwa Daud musuhnya yang berikhtiar mencelakainya. Atas peristiwa ini Saul menyesali dirinya, menangis dan menyesal. Daud telah melakukan yang baik pada dirinya padahal dirinya selalu merencanakan kejahatan dan upaya mencelakainya.
Anda pernah difitnah, dihasut dan mungkin disakiti oleh orang lain. Tidak ada kesempatan membela diri atau menjelaskan perkara yang sebenarnya. Bersabar dan berdoa, waktunya akan tiba sesuai dengan rencana Tuhan bahwa kebenaran akan terungkap secara terang benderang seperti kisah Daud di atas. Itu pelajaran PERTAMA dari nas renungan ini. Pelajaran KEDUA dari renungan hari ini mengingatkan kita agar lebih hati-hati berbicara apalagi sikap dan perbuatan yang dapat membakar kebencian dan amarah. Ada banyak kebenaran yang perlu kita tahu, namun tak perlu disampaikan pada orang lain jika itu dapat membakar amarah seperti menyulut api pada bensin. Bahkan kita harus menjadi orang yang membawa kesejukan, merajut dan mempertebal kebersamaan dan persahabatan. Jauhkanlah diri dari "dila pamolamola" (lidah pemecah-belah), namun jadilah pembawa kesejukan dan kedamaian bagi sesama. Amin.
Langganan:
Postingan (Atom)











