SEMAKIN JELAS
1 Korintus 13:12, “Karena sekarang kita melihat dalam cermin suatu gambaran yang samar-samar, tetapi nanti kita akan melihat muka dengan muka. Sekarang aku hanya mengenal dengan tidak sempurna, tetapi nanti aku akan mengenal dengan sempurna, seperti aku sendiri dikenal.”
1. Kasih bukanlah sesuatu barang yang sekali jadi, langsung dan paten, tetapi itu adalah proses yang membutuhkan perawatan disiplin dan tujuan luhur. Ada orang berpikir sudah mengasihi walau sikap dan perbuatannya jauh dari kasih. Sebaliknya ada orang yang nampaknya marah-marah, cuek, cari perhatian, rupanya karena dia mencintai. Sungguh kasih itu rumit untuk dipahami, yang jelas kasih-lah yang menjadi dasar setiap kebajikan, pengorbanan, perbuatan baik dan tindakan-tindakan orang percaya. Semua itu jika tanpa kasih dianggap sia-sia. Begitu misteriusnya kasih, pengharapan kita atas sorga pun harus mengalami proses, semakin bertumbuh, semakin jelas, semakin pasti hingga iman percaya kita tak tergoyahkan. Sorga hanya milik orang-orang yang setia sampai akhir.
2. Apakah di hati kita masih ada kasih? Berapa derajat kah suhunya? Berapa kilo bobotnya? Apakah kasih itu sudah tahan uji? Adakah pengorbanan dan sukacita dalam implementasi kasih itu? Apakah kita semua dalam arak-arakan ke sorga? Masih adakah program lain sebelum menuju kesana? Sudah pastikah sorga yang Anda tuju? Sudah siapkah Anda ke sorga kapanpun, hari ini, besok dan esok? Semua itu harus kita mantapkan hari ini.
3. Yesus sudah mengasihi kita dengan kasih yang sempurna, kasih yang tidak perlu didistorsi oleh apapun. Kasih yang tidak perlu di formulasikan dengan pola pikir dunia, tetapi kasih itu menyelamatkan, kasih itu membebaskan kita dan menuntun kita ke sorga. Mari, terimalah itu dan hiduplah dalam kasihNya. Amin.
Selamat pagi Amang-Inang, dan selamat berkarya bersama Tuhan Yesus.
[06:47, 3/16/2017] Pdt. Lucius TB. P: MENGENAL WAJAH DI CERMIN
(Dari Samar-sama kepada Kepastian)
1 Korintus 13:12, "Karena sekarang kita melihat dalam cermin suatu gambaran yang samar-samar, tetapi nanti kita akan melihat muka dengan muka. Sekarang aku hanya mengenal dengan tidak sempurna, tetapi nanti aku akan mengenal dengan sempurna, seperti aku sendiri dikenal".
Semua kita sudah pernah mengamati wajah kita di cermin, bukan? Setiap kali di depan cermin mungkin kita senyum atau sedikit bergaya, mungkin ada yang memuji wajahnya atau mungkin ada juga wajahnya jelek, tapi kita diingatkan akan keberadaan kita. Namun setelah beranjak dari cermin coba kita ingat kembali akan wajah di cermin pasti tidak sepenuhnya kita ingat. Pasti meraba-raba akan bagaimana wajah kita yang sesungguhnya. Sekarang orang sudah lebih mudah mengabadikan wajahnya dengan selfie atau photo bareng dan mempostingnya di FB atau aplikasi apapun yg dipakai instagram, path, dll. Namun setiap kali kita meninggalkan akun tersebut pasti ingatan kita tidak sempurna akan wajah kita. Sehebat apapun ingatan kita dalam cermin masih banyak yang terlupakan dan samar tetapi yang pasti wajah itu ada dan milik kita. Apakah hubungannya mengenal wajah dicermin dengan iman?
Paulus memakai istilah mengenal wajah dalam cermin sebagai contoh dalam beriman. Kita hidup di dunia ini di dalam iman; kasih Allah yang telah nyata dalam hidup ini kita syukuri dan kehidupan kekal adalah warisan yang sangat berharga. Namun bagaimana itu dapat kita rasakan? Selama di dunia ini pengenalan kita masih samar tetapi pasti, kepastian ini akan jelas ketika kita berhadapan muka dengan muka dalam kehidupan kekal. Pengetahuan kita terbatas, ingatan dan ratio kita pun memiliki limit kemampuan untuk menjelaskan kasih Allah dalam hidup ini. Ibarat anak yang bertumbuh, dari minum susu, kemudian semakin bertumbuh menjadi makan bubur dan akhirnya semakin dewasa memakan nasi keras. Pada akhirnya semuanya akan jelas dan nyata.
Apa yang digambarkan oleh Paulus dalam renungan ini adalah pengenalan kita tentang iman dan kasih Allah terbatas, ada banyak pertanyaan, ada mungkin juga terkadang keraguan sehingga masih banyak yang belum jelas, baik tentang hidup kini dan esok itu merupakan hal yang bisa saja terjadi, namun tetaplah bertumbuh sampai tiba waktunya semua ini jelas ketika kita berhadapan muka dengan muka bersama Bapa di Sorga.
Paulus menjelaskan ada tiga hal yang pasti yang menuntun kita dalam hidup ini dan ketiga hal ini tidak boleh lepas dari hidup orang percaya, yaitu iman, kasih dan pengharapan.
Dalam hidup ini kita masih bergumul dan berjuang, terkadang ada keraguan, kasih Allah seolah samar-samar dalam hidup ini. Jangan berputus asa, tetaplah setia dan bertahan dalam setiap cobaan. Tiga hal utama kekuatan kita menuju kepastian yaitu iman, kasih dan pengharapan harus tetap kita pelihara dalam hidup ini sampai tiba waktunya memasuki kepastian. Maranatha!
Selamat pagi dan selamat beraktivitas...
Huria Kristen Batak Protestan (HKBP) Sutoyo Jln. LetJend. Sutoyo, Jakarta Timur - Indonesia
Kamis, 16 Maret 2017
Rabu, 15 Maret 2017
"JANJI TUHAN" Renungan Harian Pdt.Lucius T.B.Pasaribu, S.Th
JANJI TUHAN
Mazmur 119:148, "Aku bangun mendahului waktu jaga malam untuk merenungkan janji-Mu".
Cobalah kita ingat bagaimana sikap dan perasaan kita menanti janji. Apalagi janji itu adalah hal yang kita tunggu-tunggu dan impikan dalam hidup. Ibarat seorang pemuda yang menyampaikan isi hatinya kepada kekasihnya namun kekasihnya belum memberikan jawaban, dan meminta memberikan waktu satu atau dua bulan menjawabnya. Tentu dalam menunggu ini banyak rasa yang dialami; memikirkan apakah kasihnya bersambut atau tidak, dia memikirkannya siang dan malam, sungguh bahagianya dirinya jika kasihnya bersambut dan sebaliknya tak tahu bilang apa jika kekasihnya menolaknya. Kadang optimisme muncul jika janji sesuai dengan harapan akan membuatnya semakin bersemangat, dan sungguh alangkah bahagianya dirinya membayangkan masa depan yang indah bersama kekasihnya. Namun sebaliknya jika kemungkinan jawaban seperti yang tidak diharapkan akan membuat tak bergairah; mungkin sudah ada yang lain di hatinya, sungguh tak terbayangkan perasaan hati. Mungkin rasa nano-nano kehidupan menunggu jawaban ini, merenungkannya siang dan malam sampai janji yang ditunggu tiba.
Perasaan gelisah demikianlah pengalaman pemazmur dalam renungan harian ini, rasanya tak sabar menunggu waktu, dia seolah berkejaran dengan sinar fajar mendahului waktu bangun pagi untuk merenungkan janji Tuhan dalam hidupnya. Demikian dengan malam, dia tidak tidur seolah berkata: oh malam cepatlah berlalu besok janji Tuhan akan dipenuhi untuknya. Perenungan pemazmur ini menjadi gambaran kegundahan setiap orang dalam hidup ini, seolah bergumul mempertanyakan apakah Tuhan mengabulkannya atau tidak. Padahal sesungguhya jiwa kita yang goyah dan bimbang karena Tuhan adalah setia.
Apa yang dirasakan pemazmur ini merupakan perasaan kita dalam hidup sekarang ini. Sering melangkah dalam keraguan dan kegamangan dan diombang-ambingkan oleh ketidak pastian. Tidak usah gundah dan galau dalam hidup ini, tetapi melangkahlah dalam kepastian bahwa Tuhan itu setia menepati janjinya dan tidak pernah mengecewakan. Seperti kepastian fajar merekah setiap pagi demikian janji Tuhan nyata dalam kehidupan ini. Tuhan setia pada janjiNya , justru manusia yang sering melupakan janji Tuhan.
Bagaimanakah pemazmur memelihara dan menjaga janji Tuhan dalam hidupnya? Renungan hari ini memberikan contoh yang sangat menarik. Dia memelihara janji Tuhan dalam hidupnya lebih cepat dari seperti seorang penjaga malam. Seorang penjaga malam tentu tidak terpengaruh oleh gelapnya malam, dia tidak akan tertidur oleh beratnya rasa ngantuk atau keinginan tidur yang kuat, tetapi tetap berjaga berlomba dengan waktu sampai fajar merekah. Dia terus terjaga dan tak terlelap sedikit pun hingga fajar tiba. Jika subuh sudah tiba penjaga akan mengumumkan agar warga bangun dari tidur dan melakukan aktifitasnya di pagi hari.
Dalam kehidupan desa, umumnya memahami dan itu realita jika ayam berkokok pertanda pagi telah merekah. Masyarakat akan bangun dan bekerja melakukan aktifitasnya. Maka pemazmur dalam hal ini sebelum ayam berkokok dia telah bangun menyongsong janji dan berkat Tuhan. Mungkin perlu juga direnungkan agar bangun sebelum ayam berkokok, jika bangun setelah fajar merekah rejeki kita telah dipatok ayam.
Mari bangun lebih cepat, mendahului waktu dari penjaga malam, demikianlah kesiapan dan kesediaan pemazmur menapaki hari-harinya menanti berkat dan janji Tuhan dalam hidupnya. Hidup demikian pasti lebih optismis dan lebih berhasil dalam hidup ini. Amin.
Mazmur 119:148, "Aku bangun mendahului waktu jaga malam untuk merenungkan janji-Mu".
Cobalah kita ingat bagaimana sikap dan perasaan kita menanti janji. Apalagi janji itu adalah hal yang kita tunggu-tunggu dan impikan dalam hidup. Ibarat seorang pemuda yang menyampaikan isi hatinya kepada kekasihnya namun kekasihnya belum memberikan jawaban, dan meminta memberikan waktu satu atau dua bulan menjawabnya. Tentu dalam menunggu ini banyak rasa yang dialami; memikirkan apakah kasihnya bersambut atau tidak, dia memikirkannya siang dan malam, sungguh bahagianya dirinya jika kasihnya bersambut dan sebaliknya tak tahu bilang apa jika kekasihnya menolaknya. Kadang optimisme muncul jika janji sesuai dengan harapan akan membuatnya semakin bersemangat, dan sungguh alangkah bahagianya dirinya membayangkan masa depan yang indah bersama kekasihnya. Namun sebaliknya jika kemungkinan jawaban seperti yang tidak diharapkan akan membuat tak bergairah; mungkin sudah ada yang lain di hatinya, sungguh tak terbayangkan perasaan hati. Mungkin rasa nano-nano kehidupan menunggu jawaban ini, merenungkannya siang dan malam sampai janji yang ditunggu tiba.
Perasaan gelisah demikianlah pengalaman pemazmur dalam renungan harian ini, rasanya tak sabar menunggu waktu, dia seolah berkejaran dengan sinar fajar mendahului waktu bangun pagi untuk merenungkan janji Tuhan dalam hidupnya. Demikian dengan malam, dia tidak tidur seolah berkata: oh malam cepatlah berlalu besok janji Tuhan akan dipenuhi untuknya. Perenungan pemazmur ini menjadi gambaran kegundahan setiap orang dalam hidup ini, seolah bergumul mempertanyakan apakah Tuhan mengabulkannya atau tidak. Padahal sesungguhya jiwa kita yang goyah dan bimbang karena Tuhan adalah setia.
Apa yang dirasakan pemazmur ini merupakan perasaan kita dalam hidup sekarang ini. Sering melangkah dalam keraguan dan kegamangan dan diombang-ambingkan oleh ketidak pastian. Tidak usah gundah dan galau dalam hidup ini, tetapi melangkahlah dalam kepastian bahwa Tuhan itu setia menepati janjinya dan tidak pernah mengecewakan. Seperti kepastian fajar merekah setiap pagi demikian janji Tuhan nyata dalam kehidupan ini. Tuhan setia pada janjiNya , justru manusia yang sering melupakan janji Tuhan.
Bagaimanakah pemazmur memelihara dan menjaga janji Tuhan dalam hidupnya? Renungan hari ini memberikan contoh yang sangat menarik. Dia memelihara janji Tuhan dalam hidupnya lebih cepat dari seperti seorang penjaga malam. Seorang penjaga malam tentu tidak terpengaruh oleh gelapnya malam, dia tidak akan tertidur oleh beratnya rasa ngantuk atau keinginan tidur yang kuat, tetapi tetap berjaga berlomba dengan waktu sampai fajar merekah. Dia terus terjaga dan tak terlelap sedikit pun hingga fajar tiba. Jika subuh sudah tiba penjaga akan mengumumkan agar warga bangun dari tidur dan melakukan aktifitasnya di pagi hari.
Dalam kehidupan desa, umumnya memahami dan itu realita jika ayam berkokok pertanda pagi telah merekah. Masyarakat akan bangun dan bekerja melakukan aktifitasnya. Maka pemazmur dalam hal ini sebelum ayam berkokok dia telah bangun menyongsong janji dan berkat Tuhan. Mungkin perlu juga direnungkan agar bangun sebelum ayam berkokok, jika bangun setelah fajar merekah rejeki kita telah dipatok ayam.
Mari bangun lebih cepat, mendahului waktu dari penjaga malam, demikianlah kesiapan dan kesediaan pemazmur menapaki hari-harinya menanti berkat dan janji Tuhan dalam hidupnya. Hidup demikian pasti lebih optismis dan lebih berhasil dalam hidup ini. Amin.
Selasa, 14 Maret 2017
"KASIH KRISTUS" Renungan Harian Pdt.Lucius T.B.Pasaribu, S.Th
KASIH KRISTUS
Roma 8:35+37, “Siapakah yang akan memisahkan kita dari kasih Kristus? Penindasan atau kesesakan atau penganiayaan, atau kelaparan atau ketelanjangan, atau bahaya, atau pedang? Tetapi dalam semuanya itu kita lebih dari pada orang-orang yang menang, oleh Dia yang telah mengasihi kita”
1. Hidup bersama Tuhan tidak serta merta menghilangka masalah dan berbagai kemelut. Semua masalah yang terjadi berusaha memisahkan kita dari kasih Kristus. Biasanya alat pemisah bagi kita adalah: penindasan atau kesesakan atau penganiayaan, atau kelaparan atau ketelanjangan, atau bahaya, atau pedang. Semua itu membawa kita kepada bahaya maut sepanjang hari, yang mengibaratkan kita di dalam Kristus bagaikaan domba-domba sembelihan. Namun semua sikap permusuhan kepada orang percaya, akan balik merasa bersalah, karena Yesus menjadi pembela bagi orang percaya.
2. Aneka peristiwa mendera kita dalam menguatkan iman. Kita tidak bohongi, kelaparan sering menggoda kita untuk berbuat dosa. Apalagi jika dalam pelaksanakaan tugas kemanusiaan itu, kita diperlakukan sebagai domba-domba sembelihan. Situasi itu terjadi dalam masyarakat, dalam gereja dan dalam negara, selalu ada orang yang dimarjinalkan dan dianggap tanpa hak hidup layak. Orang-orang miskin, asing dan papa ini hanya dapat mengadu kepada Tuhan.
3. Inilah tantangan dan menjadi PR kita untuk mengatasinya. Apapun penderitaan yang kamu alami, dan siapa pun yang melakukannya, percayalah semua itu tidak dapat memisahkan kita dari kasih sayang Tuhan yang mengasihani kita. Yang perlu jangan mau dihianati rasa sakit, pilu dan kepahitan. Penderitaan adalah potret dunia berdosa, kita harus maklum di dalamnya, namun yang penting jangan mau dikalahkan dunia, sebab Kristus sudah memanangkannya.
4. Marilah melihat tantangan sebagi peluang. Dari sengat lebah kita akan mendapatkan madu manis dan berkhasiat. Dari pasir yang teronggok melukai di perut kerang akan menjadi mutiara yang menawan. Semua itu diproses penderitaan dan kesengsaraan di dalam kasih Kristus. Marilah taat dan tidak perlu kecewa. Amin.
Roma 8:35+37, “Siapakah yang akan memisahkan kita dari kasih Kristus? Penindasan atau kesesakan atau penganiayaan, atau kelaparan atau ketelanjangan, atau bahaya, atau pedang? Tetapi dalam semuanya itu kita lebih dari pada orang-orang yang menang, oleh Dia yang telah mengasihi kita”
1. Hidup bersama Tuhan tidak serta merta menghilangka masalah dan berbagai kemelut. Semua masalah yang terjadi berusaha memisahkan kita dari kasih Kristus. Biasanya alat pemisah bagi kita adalah: penindasan atau kesesakan atau penganiayaan, atau kelaparan atau ketelanjangan, atau bahaya, atau pedang. Semua itu membawa kita kepada bahaya maut sepanjang hari, yang mengibaratkan kita di dalam Kristus bagaikaan domba-domba sembelihan. Namun semua sikap permusuhan kepada orang percaya, akan balik merasa bersalah, karena Yesus menjadi pembela bagi orang percaya.
2. Aneka peristiwa mendera kita dalam menguatkan iman. Kita tidak bohongi, kelaparan sering menggoda kita untuk berbuat dosa. Apalagi jika dalam pelaksanakaan tugas kemanusiaan itu, kita diperlakukan sebagai domba-domba sembelihan. Situasi itu terjadi dalam masyarakat, dalam gereja dan dalam negara, selalu ada orang yang dimarjinalkan dan dianggap tanpa hak hidup layak. Orang-orang miskin, asing dan papa ini hanya dapat mengadu kepada Tuhan.
3. Inilah tantangan dan menjadi PR kita untuk mengatasinya. Apapun penderitaan yang kamu alami, dan siapa pun yang melakukannya, percayalah semua itu tidak dapat memisahkan kita dari kasih sayang Tuhan yang mengasihani kita. Yang perlu jangan mau dihianati rasa sakit, pilu dan kepahitan. Penderitaan adalah potret dunia berdosa, kita harus maklum di dalamnya, namun yang penting jangan mau dikalahkan dunia, sebab Kristus sudah memanangkannya.
4. Marilah melihat tantangan sebagi peluang. Dari sengat lebah kita akan mendapatkan madu manis dan berkhasiat. Dari pasir yang teronggok melukai di perut kerang akan menjadi mutiara yang menawan. Semua itu diproses penderitaan dan kesengsaraan di dalam kasih Kristus. Marilah taat dan tidak perlu kecewa. Amin.
Senin, 13 Maret 2017
Pensiun Sintua St.Drs.MP.Silalahi
Hari Minggu 12 Maret 2017 telah dilaksanakan acara Pensiun Sintua yang telah mencapai umur 65 tahun yaitu bapak St.Drs.Manthon Pahala Silalahi ibu br.Ompusunggu dari Sektor Kalibata Jakarta Selatan yang dipimpin Pendeta Resort Pdt.Lucius T.B.Pasaribu, S.Th
Huria menyerahkan kenangkenangan Ulos, Cincin emas 15 garam untuk St.Manthon Pahala Silalahi dan ibu 15 gram. (narasi: St. JP. Panjaitan/photo: St. H. Manullang)
Huria menyerahkan kenangkenangan Ulos, Cincin emas 15 garam untuk St.Manthon Pahala Silalahi dan ibu 15 gram. (narasi: St. JP. Panjaitan/photo: St. H. Manullang)
![]() |
"HUKUMAN TUHAN TERHADAP HOPNI DAN PINEHAS" Renungan Harian Pdt.Lucius T.B.Pasaribu, S.Th
HUKUMAN TUHAN TERHADAP HOPNI DAN PINEHAS
1 Samuel 2:30, "Sebab itu — demikianlah firman TUHAN, Allah Israel — sesungguhnya Aku telah berjanji: Keluargamu dan kaummu akan hidup di hadapan-Ku selamanya, tetapi sekarang — demikianlah firman TUHAN —: Jauhlah hal itu dari pada-Ku! Sebab siapa yang menghormati Aku, akan Kuhormati, tetapi siapa yang menghina Aku, akan dipandang rendah".
Siapa yang tidak marah dan geram atas perlakuan Hopni dan Pinehas? Mereka adalah anak-anak imam Eli di Rama. Imam Eli telah tua, sesungguhnya sangat dibutuhkan penggantinya untuk melayani Tuhan sebagai pusat peribadahan. Warga sangat mengeluh karena Hopni dan Pinehas melakukan apa yang jahat di mata Tuhan. Mereka membuat garpu khusus sehingga kurban yang dipersembahan untuk Tuhan diambil. Bukan hanya itu, perlakuan mereka buruk dan mencemari pusat peribadahan dengan perlakuan dursila.
Kelakuan anaknya itu telah sampai kepada imam Eli, dan dia menegur kedua anaknya itu agar merubah kelakuan namun tak diindahkan. Sungguh suatu kesedihan bagi imam Eli karena perlakuan kedua anaknya. Dalam siatuasi demikianlah Samuel hadir yang direncanakan Tuhan untuk pelayanan yang besar bagi umatNya.
Seorang abdi Allah menyampaikan nubuatan mengenai perilaku Hopni dan Pinehas serta akhir hidup mereka. Mereka akan mati dalam hari yang sama, dan tidak.mempunyai keturunan. Apa yang disampaikan itu benar-benar terjadi sebagaimana sebagaimana disebut dalam renungan hari ini.
Tuhan memang telah berjanji untuk memberkati umatNya Israel, sebagai umat pilihan dan umat yang diberkati. Namun barang siapa yang menghormati Tuhan akan dihormati dan siapa yang menghinakan Tuhan akan dipandang rendah. Hopni dan Pinehas telah menghinakan Tuhan dengan segala perbuatannya yang memilukan hati Tuhan dan mereka mendapat hukuman.
Tuhan itu pengasih dan penyayang, panjang sabar dan penuh kasih setia. Tidak dibalaskannya perbuatan kita setimpal dengan yang kita lakukan. Tuhan tidak langsung menghukum, namun diberi waktu dan kesempatan untuk memperbaiki kesalahan. Baginya ada pengampunan tetap terbuka, namun jika tidak mengindahkannya murka Tuhan akan datang.
Marilah ambil bahagian dalam hidup ini dijalan yang menghormati Tuhan melalui sikap dan perbuatan yang terpuji. Maka Tuhan akan memberkati dan mengangkat hidup kita kepada sinar kemuliaan. Amin.
1 Samuel 2:30, "Sebab itu — demikianlah firman TUHAN, Allah Israel — sesungguhnya Aku telah berjanji: Keluargamu dan kaummu akan hidup di hadapan-Ku selamanya, tetapi sekarang — demikianlah firman TUHAN —: Jauhlah hal itu dari pada-Ku! Sebab siapa yang menghormati Aku, akan Kuhormati, tetapi siapa yang menghina Aku, akan dipandang rendah".
Siapa yang tidak marah dan geram atas perlakuan Hopni dan Pinehas? Mereka adalah anak-anak imam Eli di Rama. Imam Eli telah tua, sesungguhnya sangat dibutuhkan penggantinya untuk melayani Tuhan sebagai pusat peribadahan. Warga sangat mengeluh karena Hopni dan Pinehas melakukan apa yang jahat di mata Tuhan. Mereka membuat garpu khusus sehingga kurban yang dipersembahan untuk Tuhan diambil. Bukan hanya itu, perlakuan mereka buruk dan mencemari pusat peribadahan dengan perlakuan dursila.
Kelakuan anaknya itu telah sampai kepada imam Eli, dan dia menegur kedua anaknya itu agar merubah kelakuan namun tak diindahkan. Sungguh suatu kesedihan bagi imam Eli karena perlakuan kedua anaknya. Dalam siatuasi demikianlah Samuel hadir yang direncanakan Tuhan untuk pelayanan yang besar bagi umatNya.
Seorang abdi Allah menyampaikan nubuatan mengenai perilaku Hopni dan Pinehas serta akhir hidup mereka. Mereka akan mati dalam hari yang sama, dan tidak.mempunyai keturunan. Apa yang disampaikan itu benar-benar terjadi sebagaimana sebagaimana disebut dalam renungan hari ini.
Tuhan memang telah berjanji untuk memberkati umatNya Israel, sebagai umat pilihan dan umat yang diberkati. Namun barang siapa yang menghormati Tuhan akan dihormati dan siapa yang menghinakan Tuhan akan dipandang rendah. Hopni dan Pinehas telah menghinakan Tuhan dengan segala perbuatannya yang memilukan hati Tuhan dan mereka mendapat hukuman.
Tuhan itu pengasih dan penyayang, panjang sabar dan penuh kasih setia. Tidak dibalaskannya perbuatan kita setimpal dengan yang kita lakukan. Tuhan tidak langsung menghukum, namun diberi waktu dan kesempatan untuk memperbaiki kesalahan. Baginya ada pengampunan tetap terbuka, namun jika tidak mengindahkannya murka Tuhan akan datang.
Marilah ambil bahagian dalam hidup ini dijalan yang menghormati Tuhan melalui sikap dan perbuatan yang terpuji. Maka Tuhan akan memberkati dan mengangkat hidup kita kepada sinar kemuliaan. Amin.
Minggu, 12 Maret 2017
"MINGGU REMINISCERE" Renungan Minggu Pdt.Lucius T.B.Pasaribu, S.Th
MINGGU REMINISCERE
Ev: Mazmur 121: 1-8
Firman Tuhan minggu ini meyakinkan kita bahwa Tuhan adalah Penolong dan Penjaga serta Pemelihara hidup kita. Manusia lahir bukanlah kehendak dirinya sendiri, kita mesti berjalan seiring waktu. Dalam perjalanan kehidupan banyak tantangan, kadang berliku disertai sisi kiri kanan dengan tebing terjal, salah-salah akan terjungkal dan habis. Kadang harus naik turun begitu melelahkan, mungkin harus menangis, lelah dan pasrah karena tiada pertolongan. Hidup ini penuh perjuangan, bertarung ibarat menyabung nyawa tidak tahu siapa kawan dan lawan, masing-masing mengayuh hidupnya demi kepentingan diri, bahkan sadis menikam sesama demi kesuksesan pribadi.
Dari mana datang pertolongan? Dari mana datang kekuatan? Kita manusia lemah, terbatas kemampuan dan daya kita dalam hidup ini melindungi dan menjaga diri sendiri. Jangan berputus asa, Tuhan adalah Penolong dan Penjaga hidup kita.
PertolonganNya tepat pada waktunya. Dia tidak pernah tertidur dan terlelap, 24 jam Tuhan menjaga dan memelihara kita, tak sekedip pun Dia terlelap. Dia menyoroti dan mengawasi lebih tajam dari cctv atau pos penjaga manapun.
Firman ini meneguhkan kita bahwa Tuhan tidak membiarkan kaki goyah, Dialah penolong yang setia. Dia menjaga dan menghantarkan kita sampai ke tujuan akhir perjalanan hidup ini. Amin.
Ev: Mazmur 121: 1-8
Firman Tuhan minggu ini meyakinkan kita bahwa Tuhan adalah Penolong dan Penjaga serta Pemelihara hidup kita. Manusia lahir bukanlah kehendak dirinya sendiri, kita mesti berjalan seiring waktu. Dalam perjalanan kehidupan banyak tantangan, kadang berliku disertai sisi kiri kanan dengan tebing terjal, salah-salah akan terjungkal dan habis. Kadang harus naik turun begitu melelahkan, mungkin harus menangis, lelah dan pasrah karena tiada pertolongan. Hidup ini penuh perjuangan, bertarung ibarat menyabung nyawa tidak tahu siapa kawan dan lawan, masing-masing mengayuh hidupnya demi kepentingan diri, bahkan sadis menikam sesama demi kesuksesan pribadi.
Dari mana datang pertolongan? Dari mana datang kekuatan? Kita manusia lemah, terbatas kemampuan dan daya kita dalam hidup ini melindungi dan menjaga diri sendiri. Jangan berputus asa, Tuhan adalah Penolong dan Penjaga hidup kita.
PertolonganNya tepat pada waktunya. Dia tidak pernah tertidur dan terlelap, 24 jam Tuhan menjaga dan memelihara kita, tak sekedip pun Dia terlelap. Dia menyoroti dan mengawasi lebih tajam dari cctv atau pos penjaga manapun.
Firman ini meneguhkan kita bahwa Tuhan tidak membiarkan kaki goyah, Dialah penolong yang setia. Dia menjaga dan menghantarkan kita sampai ke tujuan akhir perjalanan hidup ini. Amin.
Langganan:
Postingan (Atom)
