KUASANYA BESAR DAN KERAJAANNYA KEKAL
Daniel 4:3, "Betapa besarnya tanda-tanda-Nya dan betapa hebatnya mujizat-mujizat-Nya! Kerajaan-Nya adalah kerajaan yang kekal dan pemerintahan-Nya turun-temurun!".
Kalau kita baca sebelum teks ini kita akan mengetahui bahwa nats diatas lahir dari Nebukadnezar. Suatu pengakuan atas apa yang disaksikannya di depan matanya sendiri. Tiga orang Yahudi yang dicampakkan ke perapian panas yang menyala-nyala yaitu Sadrakh, Mesakh dan Abednego tidak terbakar sehelai rambut pun. Malah penjaga yang mecamppaknya saja sudah mati terbakar hangus . Mereka dicampakkan ke perapian panas yang menghanguskan karena tidak mau menyembah dewa tuangan yang dititahkan raja.
Itulah kehebatan Allah Israel, yang dikisahkan kitab Daniel. Dalam segala penindasan umat Allah di pembuangan, Allah bekerja dan berkarya melalui hamba-hambaNya bahwa Tuhan itu besar dan berkuasa serta kerajaanNya kekal. Sekalipun dihimpit, ditindas dan berbagai tekanan berat dilakukan, namun ada saja mujizat bahwa Tuhan menolong, melindungi dan memelihara umatnya. Bahkan Nebukadnezar sendiri yang merencanakan langsung upaya menekan Daniel dan kawan-kawan justru berubah pikiran, bahkan memuji Tuhan atas segala mujizat yang terjadi di depan matanya.
Siapa yang tidak takjub akan kebesaran Tuhan yang memelihara dan melindungi Daniel dan kawan-kawan di istana Nebukadnezar? Sekeras apapun upaya untuk menindas Daniel dkk, Tuhan menjaga dan memeliharanya. Sehebat apapun kebencian yang dihasutkan para cerdik pandai di istana untuk mengucilkan Daniel, tetapi tetap tampil sebagai orang terbaik, dia tabah menjalani dan tidak membalas kejahatan. Atas apa yang disaksikan sendiri Nebukadzar akhirnya mengakui kebesaran dan hebatnya Tuhan itu. Daniel tetap setia kepada Tuhan, dia tidak membalaskan kejahatan dan tetap melakukan kebaikan. Hidup Daniel dan apa yang terjadi padanya telah menjadi kesaksian bagi orang lain bahkan turut memuji dan memuliakan Allah.
Renungan ini menguatkan iman kita bahwa Tuhan itu besar kuasaNya untuk melindungi orang-orang yang dikasihiNya. Kuasa dan mujizatNya nyata, KerajaanNya kekal dan abadi tiada banding, tidak seperti kekuasaan dan kerajaan dunia ini yang timbul tenggelam, rezim berganti rezim silih berganti. Marilah kita memuji dan memuliakan Tuhan yang kekal dan abadi dalam hidup kita. Amin.
Huria Kristen Batak Protestan (HKBP) Sutoyo Jln. LetJend. Sutoyo, Jakarta Timur - Indonesia
Rabu, 22 Maret 2017
Selasa, 21 Maret 2017
"KEBENCIAN: BARABAS LEPAS, YESUS DISESAH!" Renungan Harian Pdt.Lucius T.B.Pasaribu, S.Th
KEBENCIAN: BARABAS LEPAS,
YESUS DISESAH!
Lukas 23:25, "Dan ia melepaskan orang yang dimasukkan ke dalam penjara karena pemberontakan dan pembunuhan itu sesuai dengan tuntutan mereka, tetapi Yesus diserahkannya kepada mereka untuk diperlakukan semau-maunya".
Jika kebencian muncul maka pikiran logis pun sirna, bahkan bahayanya jatuh pada membenarkan yang salah dan menyalahkan kebenaran. Itulah yang terjadi dalam detik-detik pengambilan keputusan Pilatus dalam kasus pengadilan penistaan agama yang dituduhkan imam-imam kepada Yesus. Dalam tuduhan itu sesungguhnya tidak ada bukti, dan Pilatus sendiri menyatakan bahwa menurut penyelidikan tidak ada kesalahan Yesus. Namun desakan massa terus bergelora dan bergerumuh semakin keras: "Salibkan Dia! Salibkan Dia!". Pilatuas makin terpojok oleh massa hingga takut dituduh bukan sahabat kaisar. Maka Pilatus mencoba menawarkan sebagaimana tradisi perayaan Paskah selalu ada 'amnesty' atau 'gratia', pembebasan seorang penjahat. Momen itu dipakai Pilatus untuk membuat pilihan di hadapan massa: mana lebih baik melepaskan Barabas atau Yesus. Massa yang dirasuki kebencian makin menggila, mereka berseru: "Barabas! Barabas!". Seorang penjahat besar yang menakutkan, harus dibenarkan dan dibebaskan karena kebencian kepada Yesus yang penuh dengan kasih. Inilah hilangnya pikiran logis karena kebencian.
Bukankah Yesus bersama-sama dengan mereka? Bukankah di antara mereka sudah menyaksikan dan bahkan merasakan kasihNya yang besar menyembuhkan orang sakit? Mengajar dengan penuh kharisma dan khotbahNya menggugah hati. Yesus telah bersama-sama dengan orang banyak untuk melayani mereka. Bahkan ketika Yesus mau memasuki gerbang Yerusalem, Dia disambut laksana raja dengan peristiwa Palmarum. Inilah kebencian mengubah segalanya: kasih menjadi kebencian, benar menjadi kesalahan, niat baik dianggap jahat. Kebencian memutarkan logika: lebih baik melepaskan Barabas, penyamun yang ganas, penjahat yang sadis. Sebaliknya Yesus yang baik hati, mengajar dengan lembut dan tanganNya yang penuh kasih harus disesah! Pilatus memutuskan atas desakan dan amarah massa: lepaskan Barabas, dan Yesus pun disesah. Dalam nats ini dikatakan; "....Yesus diserahkan kepada mereka untuk diperlakukan semau-maunya."
Mengapa pikiran logis bisa sedemikian hilang dan lenyap? Kuncinya adalah karena dirasuki oleh kebencian. Kebencian bukan hanya menyakiti orang lain, namun menjerumuskan diri sendiri kepada kesalahan yang tidak termaafkan. Kebencian akan mencari kepuasan, seperti anak panah yang hendak dilepaskan. Sasaran kebencian akan menembus siapa saja jika kebencian sudah tak terbendung. Amarah dan kegeraman serta kalap mata oleh luapan emosi yang tak terkendalikan. Bagai anak panah yang terlepas memakan korban yang tersasar. Jika kebencian tidak bisa dibendung akan melupakan segalanya yang ada: puas melampiaskan emosi kebencian.
Barabas dilepas dan Yesus disesah, suatu peristiwa kebencian yang sangat menggugah hati. Mengingatkan kita selalu agar waspada terhadap kebencian. Bisa saja kita tidak menerima kesalahan, namun jangan sampai kebencian yang tak terkendali. Jika amarahmu ada, berdoalah dan jangan sampai matahari terbenam amarahmu tidak padam sebagaimana pesan firman Tuhan: "Apabila kamu menjadi marah, janganlah kamu berbuat dosa: janganlah matahari terbenam, sebelum padam amarahmu" (Efesus 4:26).
YESUS DISESAH!
Lukas 23:25, "Dan ia melepaskan orang yang dimasukkan ke dalam penjara karena pemberontakan dan pembunuhan itu sesuai dengan tuntutan mereka, tetapi Yesus diserahkannya kepada mereka untuk diperlakukan semau-maunya".
Jika kebencian muncul maka pikiran logis pun sirna, bahkan bahayanya jatuh pada membenarkan yang salah dan menyalahkan kebenaran. Itulah yang terjadi dalam detik-detik pengambilan keputusan Pilatus dalam kasus pengadilan penistaan agama yang dituduhkan imam-imam kepada Yesus. Dalam tuduhan itu sesungguhnya tidak ada bukti, dan Pilatus sendiri menyatakan bahwa menurut penyelidikan tidak ada kesalahan Yesus. Namun desakan massa terus bergelora dan bergerumuh semakin keras: "Salibkan Dia! Salibkan Dia!". Pilatuas makin terpojok oleh massa hingga takut dituduh bukan sahabat kaisar. Maka Pilatus mencoba menawarkan sebagaimana tradisi perayaan Paskah selalu ada 'amnesty' atau 'gratia', pembebasan seorang penjahat. Momen itu dipakai Pilatus untuk membuat pilihan di hadapan massa: mana lebih baik melepaskan Barabas atau Yesus. Massa yang dirasuki kebencian makin menggila, mereka berseru: "Barabas! Barabas!". Seorang penjahat besar yang menakutkan, harus dibenarkan dan dibebaskan karena kebencian kepada Yesus yang penuh dengan kasih. Inilah hilangnya pikiran logis karena kebencian.
Bukankah Yesus bersama-sama dengan mereka? Bukankah di antara mereka sudah menyaksikan dan bahkan merasakan kasihNya yang besar menyembuhkan orang sakit? Mengajar dengan penuh kharisma dan khotbahNya menggugah hati. Yesus telah bersama-sama dengan orang banyak untuk melayani mereka. Bahkan ketika Yesus mau memasuki gerbang Yerusalem, Dia disambut laksana raja dengan peristiwa Palmarum. Inilah kebencian mengubah segalanya: kasih menjadi kebencian, benar menjadi kesalahan, niat baik dianggap jahat. Kebencian memutarkan logika: lebih baik melepaskan Barabas, penyamun yang ganas, penjahat yang sadis. Sebaliknya Yesus yang baik hati, mengajar dengan lembut dan tanganNya yang penuh kasih harus disesah! Pilatus memutuskan atas desakan dan amarah massa: lepaskan Barabas, dan Yesus pun disesah. Dalam nats ini dikatakan; "....Yesus diserahkan kepada mereka untuk diperlakukan semau-maunya."
Mengapa pikiran logis bisa sedemikian hilang dan lenyap? Kuncinya adalah karena dirasuki oleh kebencian. Kebencian bukan hanya menyakiti orang lain, namun menjerumuskan diri sendiri kepada kesalahan yang tidak termaafkan. Kebencian akan mencari kepuasan, seperti anak panah yang hendak dilepaskan. Sasaran kebencian akan menembus siapa saja jika kebencian sudah tak terbendung. Amarah dan kegeraman serta kalap mata oleh luapan emosi yang tak terkendalikan. Bagai anak panah yang terlepas memakan korban yang tersasar. Jika kebencian tidak bisa dibendung akan melupakan segalanya yang ada: puas melampiaskan emosi kebencian.
Barabas dilepas dan Yesus disesah, suatu peristiwa kebencian yang sangat menggugah hati. Mengingatkan kita selalu agar waspada terhadap kebencian. Bisa saja kita tidak menerima kesalahan, namun jangan sampai kebencian yang tak terkendali. Jika amarahmu ada, berdoalah dan jangan sampai matahari terbenam amarahmu tidak padam sebagaimana pesan firman Tuhan: "Apabila kamu menjadi marah, janganlah kamu berbuat dosa: janganlah matahari terbenam, sebelum padam amarahmu" (Efesus 4:26).
Senin, 20 Maret 2017
"WARISAN PEMBERIAN ALLAH" Renungan Harian Pdt.Lucius T.B.Pasaribu, S.Th
WARISAN PEMBERIAN ALLAH
Mazmur 16:6, /Tali pengukur jatuh bagiku di tempat-tempat yang permai; ya, milik pusakaku menyenangkan hatiku".
Bagi orang Israel tanah adalah milik pusaka pemberian Allah. Hingga saat ini menurut Israel tanah tak boleh dijual sembarangan karena itu pusaka, ada aturan atau hukum yang ketat dalam menjual tanah. Hal ini diyakini karena tanah adalah pemberian Allah, manusia hanya mengolahnya. Sejarah pembagian tanah bagi umat Allah ketika mereka memasuki tanah Kanaan. Yosua memimpin pembagian tanah disaksikan oleh tua-tua Israel. Undi pun dibuang dan tali pengukur ditetapkan untuk menetapkan batas-batas masing-masing. Demikianlah keduabelas suku Israel mendapatkan warisan dan milik pusakanya, kecuali Levi karena mereka hidup dari perpuluhan. Tidak ada yang komplain, apakah itu tanah yang subur, berbukit atau lembah atau berbatu atau berpasir, mereka menerimanya dengan penuh sukacita karena mereka percaya itu adalah pemberian Tuhan. Tidak ada yang bersungut-sungut dengan membandingkan pemberian kepada yang lainnya. Demikian pulalah setiap suku-suku Israel membagi tanah warisan masing-masing keluarga dengan membuang undi dan menetapkan tali pengukur.
Ungkapan seperti itu juga diungkapkan oleh Daud dalam mazmur pujian ini. Bahwa bahagian yang ditetapkan bagi dia adalah pemberian Allah. Tali pengukur yang menetapkan warisan tanah baginya menunjukkan pada tanah yang subur, permai dan menguntungkan itu bukanlah karena kekuatan dia atau budi baiknya, namun karena penentuan Tuhan. Warisan dan pusakanya adalah pemberian Allah. Pemberian Allah itu dia sukai dan membuat hatinya senang dan bahagia.
Apa yang disampaikan pemazmur disini menjadi inspirasi bagi kita. Semua yang ada dalam hidup kita adalah pemberian Allah. Apa yang kita miliki bukanlah karena kita sendiri yang mengambil bahagian yang kita kehendaki, tetapi kita percaya campur tangan Tuhan dalam menetapkan apa yang ada dan terjadi dalam hidup ini haruslah kita syukuri. Tuhan telah menetapkan bahagian kita masing-masing atau jalan hidup yang harus kita lalui, dan kita harus jalani dengan syukur dan bersukacita. Jangan bandingkan hidupmu dengan yang lain. Kalaupun membandingkannya lihatlah ke bawah atau kesamping kiri kanan, jangan hanya melihat keatas yang Anda anggap lebih darimu. Tak ada alasan untuk tidak bersyukur karena banyak hal yang menyenangkan hati kita yang tidak dimiliki oleh orang lain. Allah menetapkan yang terbaik untuk kita.
Apapun yang terjadi dalam hidup kita mari jalani dengan senang hati; ketika suka duka, manis pahit, tertawa atau menangis semuanya ditetapkan Tuhan untuk kita lalui demi kebahagiaan kita. Amin.
Mazmur 16:6, /Tali pengukur jatuh bagiku di tempat-tempat yang permai; ya, milik pusakaku menyenangkan hatiku".
Bagi orang Israel tanah adalah milik pusaka pemberian Allah. Hingga saat ini menurut Israel tanah tak boleh dijual sembarangan karena itu pusaka, ada aturan atau hukum yang ketat dalam menjual tanah. Hal ini diyakini karena tanah adalah pemberian Allah, manusia hanya mengolahnya. Sejarah pembagian tanah bagi umat Allah ketika mereka memasuki tanah Kanaan. Yosua memimpin pembagian tanah disaksikan oleh tua-tua Israel. Undi pun dibuang dan tali pengukur ditetapkan untuk menetapkan batas-batas masing-masing. Demikianlah keduabelas suku Israel mendapatkan warisan dan milik pusakanya, kecuali Levi karena mereka hidup dari perpuluhan. Tidak ada yang komplain, apakah itu tanah yang subur, berbukit atau lembah atau berbatu atau berpasir, mereka menerimanya dengan penuh sukacita karena mereka percaya itu adalah pemberian Tuhan. Tidak ada yang bersungut-sungut dengan membandingkan pemberian kepada yang lainnya. Demikian pulalah setiap suku-suku Israel membagi tanah warisan masing-masing keluarga dengan membuang undi dan menetapkan tali pengukur.
Ungkapan seperti itu juga diungkapkan oleh Daud dalam mazmur pujian ini. Bahwa bahagian yang ditetapkan bagi dia adalah pemberian Allah. Tali pengukur yang menetapkan warisan tanah baginya menunjukkan pada tanah yang subur, permai dan menguntungkan itu bukanlah karena kekuatan dia atau budi baiknya, namun karena penentuan Tuhan. Warisan dan pusakanya adalah pemberian Allah. Pemberian Allah itu dia sukai dan membuat hatinya senang dan bahagia.
Apa yang disampaikan pemazmur disini menjadi inspirasi bagi kita. Semua yang ada dalam hidup kita adalah pemberian Allah. Apa yang kita miliki bukanlah karena kita sendiri yang mengambil bahagian yang kita kehendaki, tetapi kita percaya campur tangan Tuhan dalam menetapkan apa yang ada dan terjadi dalam hidup ini haruslah kita syukuri. Tuhan telah menetapkan bahagian kita masing-masing atau jalan hidup yang harus kita lalui, dan kita harus jalani dengan syukur dan bersukacita. Jangan bandingkan hidupmu dengan yang lain. Kalaupun membandingkannya lihatlah ke bawah atau kesamping kiri kanan, jangan hanya melihat keatas yang Anda anggap lebih darimu. Tak ada alasan untuk tidak bersyukur karena banyak hal yang menyenangkan hati kita yang tidak dimiliki oleh orang lain. Allah menetapkan yang terbaik untuk kita.
Apapun yang terjadi dalam hidup kita mari jalani dengan senang hati; ketika suka duka, manis pahit, tertawa atau menangis semuanya ditetapkan Tuhan untuk kita lalui demi kebahagiaan kita. Amin.
Minggu, 19 Maret 2017
"YESUS AIR HIDUP" Jamita Minggu Pdt.Lucius T.B.Pasaribu, S.Th
YESUS AIR HIDUP (Yoh 4:5-26)
Minggu Okuli, 19 Maret 2017
Firman Tuhan Minggu ini merupakan dialog Yesus dengan perempuan Samaria yang mengubah kehidupannya. Perikope ini sangat kaya makna yang dapat kita pelajari dalam hidup ini. Satu hal penting dari itu adalah kita sama seperti perempuan Samaria yang selalu haus dalam kehidupan ini mencari kepuasan diri, akhirnya jatuh pada dosa, asusila, ketidak jujuran dan rumah tangga yang berantakan hingga terasing dari masyarakat. Perempuan Samaria adalah contoh kehidupan yang kehilangan kebahagiaan. Yesus datang dan berkenan memberikan air kehidupan yang memulihkan orientasi hidup kita kepada kebenaran.
Dari dialog Yesus dengan perempuan Samaria, Yesus berkenan memberikan air kehidupan dengan kesediaan kita mengubah kehidupan kita. Kita menemukan berbagai pelajaran yang sangat berharga dalam kotbah minggu ini: dari etika, kepribadian hingga doktrin keagamaan.
Ada beberapa ajakan yang sangat berharga dari kotbah ini:
1. Mengubah persepsi yang dikungkung oleh perbedaan, permusuhan dan tembok-tembok pemisah bahkan kebencian kepada hidup rukun dan damai, rasa persaudaraan yang tinggi dan hidup saling memberi. Yesus berkenan datang, menyapa dan berkomunikasi dengan perempuan Samaria. Bagi seorang Yahudi ini adalah sesuatu yang tidak biasa. Yahudi sangat membenci Samaria. Kebencian ini merupakan akumulasi benturan sejarah dari perpecahan Israel menjadi dua kerajaan hingga hukum kawin campur. Bagi Yahudi, Samaria telah hidup kawin campur ketika jatuh di tangan Assyur hingga terlibat berbagai perang. Setiap melihat orang Samaria, Yahudi selalu memalingkan muka, mungkin saja bagi Yahudi lebih baik terantuk kaki karena menutup muka ketika berjalan dari pada harus melihat seorang Samaria. Warisan permusuhan, kebencian dan berbagai tembok pemisah demikian diruntuhkan oleh Yesus dan membangun persekutuan dan persaudaraan yang rukun dan damai
2. Bergegas membenahi diri yang ambisi dan haus akan kepuasan diri serta ketidak jujuran. Selama demikian hidup kita lebih parah dari perempuan Samaria sebelum bertobat. Selagi hidup hanya mencari kepuasan diri akan semakin jatuh dalam dosa yang semakin jahat. Semakin kuat ambisi untuk memenuhi kepentingan diri semakin terasing dari sosial masyarakat, semakin kuat mengejar kepuasan diri semakin jauh dari kejujuran. Hidup hina dan terasing, menyiksa diri dan terus dalam kepura-puraan yang akhirnya kehilangan kebahagiaan. Yesus tahu dan mau memberikan kebahagiaan. Dialah air kehidupan bagi kita. Yesus menawarkan diriNya menjadi kebutuhan yang terpokok dalam hidup manusia. Manusia terdiri dari 80% air dan tak seorangpun manusia bisa hidup tanpa air. Mari bergegas memberikan hidup ini berpaut kepada Yesus Kristus yang berkenan memberikan kebahagiaan.
3. Kehadiran Yesus mengubah pemahaman religius yang benar. Allah tidak dibatasi oleh ruang dan waktu bahkan dengan hukum dan persyaratan2 agama. Allah itu adalah Roh dan kebenaran. Kita beribadah bukan dibatasi ruang dan waktu. Dimana ada kebenaran di situ Allah hadir. Kehidupan religius yang benar bukan karena mengikuti persyaratan formal keagamaan. Tetapi ketika manusia mau menerima kebenaran. Maka yang dibutuhkan adalah bukan dengan membenarkan diri dan melegitimasi kebenaran diri dengan doktrin-doktrin yang membatasi Tuhan. Sekali lagi, penyembahan dan ibadah yang benar bukanlah oleh persyaratan agama formal tetapi kesediaan manusia yang berkenan hidup di dalam kebenaran.
Selamat hari Minggu, dan selamat beribadah.
Minggu Okuli, 19 Maret 2017
Firman Tuhan Minggu ini merupakan dialog Yesus dengan perempuan Samaria yang mengubah kehidupannya. Perikope ini sangat kaya makna yang dapat kita pelajari dalam hidup ini. Satu hal penting dari itu adalah kita sama seperti perempuan Samaria yang selalu haus dalam kehidupan ini mencari kepuasan diri, akhirnya jatuh pada dosa, asusila, ketidak jujuran dan rumah tangga yang berantakan hingga terasing dari masyarakat. Perempuan Samaria adalah contoh kehidupan yang kehilangan kebahagiaan. Yesus datang dan berkenan memberikan air kehidupan yang memulihkan orientasi hidup kita kepada kebenaran.
Dari dialog Yesus dengan perempuan Samaria, Yesus berkenan memberikan air kehidupan dengan kesediaan kita mengubah kehidupan kita. Kita menemukan berbagai pelajaran yang sangat berharga dalam kotbah minggu ini: dari etika, kepribadian hingga doktrin keagamaan.
Ada beberapa ajakan yang sangat berharga dari kotbah ini:
1. Mengubah persepsi yang dikungkung oleh perbedaan, permusuhan dan tembok-tembok pemisah bahkan kebencian kepada hidup rukun dan damai, rasa persaudaraan yang tinggi dan hidup saling memberi. Yesus berkenan datang, menyapa dan berkomunikasi dengan perempuan Samaria. Bagi seorang Yahudi ini adalah sesuatu yang tidak biasa. Yahudi sangat membenci Samaria. Kebencian ini merupakan akumulasi benturan sejarah dari perpecahan Israel menjadi dua kerajaan hingga hukum kawin campur. Bagi Yahudi, Samaria telah hidup kawin campur ketika jatuh di tangan Assyur hingga terlibat berbagai perang. Setiap melihat orang Samaria, Yahudi selalu memalingkan muka, mungkin saja bagi Yahudi lebih baik terantuk kaki karena menutup muka ketika berjalan dari pada harus melihat seorang Samaria. Warisan permusuhan, kebencian dan berbagai tembok pemisah demikian diruntuhkan oleh Yesus dan membangun persekutuan dan persaudaraan yang rukun dan damai
2. Bergegas membenahi diri yang ambisi dan haus akan kepuasan diri serta ketidak jujuran. Selama demikian hidup kita lebih parah dari perempuan Samaria sebelum bertobat. Selagi hidup hanya mencari kepuasan diri akan semakin jatuh dalam dosa yang semakin jahat. Semakin kuat ambisi untuk memenuhi kepentingan diri semakin terasing dari sosial masyarakat, semakin kuat mengejar kepuasan diri semakin jauh dari kejujuran. Hidup hina dan terasing, menyiksa diri dan terus dalam kepura-puraan yang akhirnya kehilangan kebahagiaan. Yesus tahu dan mau memberikan kebahagiaan. Dialah air kehidupan bagi kita. Yesus menawarkan diriNya menjadi kebutuhan yang terpokok dalam hidup manusia. Manusia terdiri dari 80% air dan tak seorangpun manusia bisa hidup tanpa air. Mari bergegas memberikan hidup ini berpaut kepada Yesus Kristus yang berkenan memberikan kebahagiaan.
3. Kehadiran Yesus mengubah pemahaman religius yang benar. Allah tidak dibatasi oleh ruang dan waktu bahkan dengan hukum dan persyaratan2 agama. Allah itu adalah Roh dan kebenaran. Kita beribadah bukan dibatasi ruang dan waktu. Dimana ada kebenaran di situ Allah hadir. Kehidupan religius yang benar bukan karena mengikuti persyaratan formal keagamaan. Tetapi ketika manusia mau menerima kebenaran. Maka yang dibutuhkan adalah bukan dengan membenarkan diri dan melegitimasi kebenaran diri dengan doktrin-doktrin yang membatasi Tuhan. Sekali lagi, penyembahan dan ibadah yang benar bukanlah oleh persyaratan agama formal tetapi kesediaan manusia yang berkenan hidup di dalam kebenaran.
Selamat hari Minggu, dan selamat beribadah.
Sabtu, 18 Maret 2017
"ORANG SURGA DI BUMI" Renungan Harian Pdt.Lucius T.B.Pasaribu, S.Th
ORANG SURGA DI BUMI
Filipi 3:20, “Karena kewargaan kita adalah di dalam sorga, dan dari situ juga kita menantikan Tuhan Yesus Kristus sebagai Juruselamat.”
1. Kita adalah warga sorga, dan otomatis “warga pendatang” di mana kita hidup. Sebagai pendatang sebenarnya kita tidak punya hak apapun atas bumi yang kita tinggali, semua itu hanya boleh kita nikmati sebagai anugerah untuk sesaat saja dan segera akan berlalu. Status itu membuat sangat wajar kita tidak nyaman di bumi ini karena perilaku, tabiat, kepentingan dan orientasi hidup kita yang berbeda. Orang lain mengutamakan ‘penikmatan’ atas berkah bumi sedangkan bagi kita ada tanggungjawab pengelolaannya, sampai titik pengharapan akan kembali ke sorga dimana Yesus akan datang menjemput setiap orang percaya.
2. Sangat banyak hal yang boleh dikaitkan dengan pokok pikiran ini. Nas ini berada dalam perikop nasehat-nasehat akhir dari Paulus kepada jemaat Filipi yang relevan menguatkan hati setiap orang akan siapa dirinya, dimana dia berada dan kemana dia mau pergi. Bagi orang yang teraniaya oleh berbagai kejahatan, penyakit dan hiruk pikuk dunia, nas ini menjadi penghibur yang ajaib: bahwa ada Yesus mengasihi kita dan segera datang sesuai kerinduan imn kita.
3. Sekiranya setiap orang sadar akan siapa dan mau kemana dia hidup, dia tidak akan pernah menyia-nyiakan maklumat ini: Aku segera datang untuk menjemput orang yang percaya kepadaKu, peganglah apa (keselamatan) yang ada padamu. Itulah yang meneguhkan hidup kita dalam rumah tangga yang bermasalah, dalam kekurangan uang, dalam keterbatasan akses, dan dalam kebuntuan komunikasi. Yesus segera datang. Bertobatlah!
4. Marilah fokus berjalan menuju Sorga. Kita bereskan pertanggung-jawaban kita ini. Bersikaplah sebagai pendatang yang baik dan bertanggung jawab, yang berkontribusi kepada hidup bersama. Mari melaksanakan amanat pembangunan hidup dengan memberikan dirimu sebagai saluran berkat bagi sesama. Sadari hidup ini akan segera berakhir, tapi perjalanan kita akan tiba di sorga. Amin.
Filipi 3:20, “Karena kewargaan kita adalah di dalam sorga, dan dari situ juga kita menantikan Tuhan Yesus Kristus sebagai Juruselamat.”
1. Kita adalah warga sorga, dan otomatis “warga pendatang” di mana kita hidup. Sebagai pendatang sebenarnya kita tidak punya hak apapun atas bumi yang kita tinggali, semua itu hanya boleh kita nikmati sebagai anugerah untuk sesaat saja dan segera akan berlalu. Status itu membuat sangat wajar kita tidak nyaman di bumi ini karena perilaku, tabiat, kepentingan dan orientasi hidup kita yang berbeda. Orang lain mengutamakan ‘penikmatan’ atas berkah bumi sedangkan bagi kita ada tanggungjawab pengelolaannya, sampai titik pengharapan akan kembali ke sorga dimana Yesus akan datang menjemput setiap orang percaya.
2. Sangat banyak hal yang boleh dikaitkan dengan pokok pikiran ini. Nas ini berada dalam perikop nasehat-nasehat akhir dari Paulus kepada jemaat Filipi yang relevan menguatkan hati setiap orang akan siapa dirinya, dimana dia berada dan kemana dia mau pergi. Bagi orang yang teraniaya oleh berbagai kejahatan, penyakit dan hiruk pikuk dunia, nas ini menjadi penghibur yang ajaib: bahwa ada Yesus mengasihi kita dan segera datang sesuai kerinduan imn kita.
3. Sekiranya setiap orang sadar akan siapa dan mau kemana dia hidup, dia tidak akan pernah menyia-nyiakan maklumat ini: Aku segera datang untuk menjemput orang yang percaya kepadaKu, peganglah apa (keselamatan) yang ada padamu. Itulah yang meneguhkan hidup kita dalam rumah tangga yang bermasalah, dalam kekurangan uang, dalam keterbatasan akses, dan dalam kebuntuan komunikasi. Yesus segera datang. Bertobatlah!
4. Marilah fokus berjalan menuju Sorga. Kita bereskan pertanggung-jawaban kita ini. Bersikaplah sebagai pendatang yang baik dan bertanggung jawab, yang berkontribusi kepada hidup bersama. Mari melaksanakan amanat pembangunan hidup dengan memberikan dirimu sebagai saluran berkat bagi sesama. Sadari hidup ini akan segera berakhir, tapi perjalanan kita akan tiba di sorga. Amin.
Jumat, 17 Maret 2017
"TUNJUKKANLAH JALANMU!" Renungan Harian Pdt.Lucius T.B.Pasaribu, S.Th
TUNJUKKANLAH JALANMU!
Mazmur 86:11, "Tunjukkanlah kepadaku jalan-Mu, ya TUHAN, supaya aku hidup menurut kebenaran-Mu; bulatkanlah hatiku untuk takut akan nama-Mu".
Penunjuk jalan merupakan hal yang sangat penting dalam kehidupan kita sehari-hari. Dapat kita bayangkan bagaimana seorang sopir akan kebingungan dan bisa tersesat tak tahu arah tanpa petunjuk jalan. Sekarang agak mudah dengan adanya aplikasi GPS, kita input data alamat dan kita jalan maka GPS akan mengarahkan kita ke jalan yang hendak dituju sampau ke tujuan. Sebegitu canggihnya GPS kadang juga kita tersesat dan salah. Namun itu sudah membantu kita dalam perjalanan. Dalam perjalanan petunjuk jalan sangat penting agar sampai ke tujuan.
Bagaimana jika kita berjalan dalam traveling di hutan yang tidak ada petunjuk? Tak ada orang tempat bertanya. Sungguh gelap dan berjalan dalam ketidak-pastian. Jika dia berjalan ke utara atau selatan takut semakin terjebak dalam hutan, diam di tempat sama saja tak ada jalan pulang. Pengalaman seperti inilah yang dirasakan oleh pemazmur dalam menjalani hidup ini. Dia tidak mau berjalan tanpa petunjuk Tuhan. Dia hanya mau berjalan melalui petunjuk Tuhan.
Dalam hidup ini banyak hal yang tidak kita tahu, jalan yang nampak seolah mulus seperti jalan tol namun di jalan tol banyak kenderaan tabrakan beruntun. Ada jalan yang seolah sulit, terjal dan seram berliku namun orang lalu lalang dan selamat. Jalan hidup ini memang demikian, kita tidak tahu apa yang akan terjadi hari ini, kita tidak tahu apa aral yang ada di depan kita; mungkin jebakan, ancaman, intimidasi dan teror. Sekalipun demikian kita tidak boleh berhenti, karena hidup ini harus tetap berjalan. Namun jalan yang harus kita lalui adalah jalan yang berdasarkan petunjuk Tuhan. Janganlah lalui jalan yang tidak dikehendaki oleh Allah. Firman telah memberitahukan kepada kita apa yang harus kita lakukan dan yang tidak kita lakukan. Berjalanlah bersama terang Tuhan. Itu pesan PERTAMA dari renungan ini.
KEDUA, pemazmur memohon kepada Tuhan agar hatinya bulat untuk takut kepada nama Tuhan. Hati ibarat mesin yang menggerakkan dalam kenderaan. Demikian hati manusia menggerakkan manusia melakukan sesuatu. Hati nurani yang disertai takut akan Tuhan akan berjalan sesuai dengan kehendakNya. Namun hati yang sudah tidak ada nurani, yang di dalamnya ada kebencian, ambisi, hawa nafsu, dan keinginan yang tinggi menggapai kepentingan diri bisa saja berjalan tanpa petunjuk Tuhan. Tidak sedikit ada tindakan konyol dan tega menghabisi orang lain demi mencapai kentingan diri. Di sinilah pemazmur meminta pertolongan Tuhan agar tetap menjaga hatinya selalu takut akan Tuhan.
Oh Tuhan berilah petunjuk-Mu, doa permohonan minta tolong yang selalu menguatkan kita dalam perjalanan hidup ini. Demikian kita dalam menjalani hari-hari kita, yang terkadang bergumul, berbeban berat dan berjalan di jalan yang tidak tahu arah. Mintalah petunjuk Tuhan, Dia selalu berkenan memberikan petunjuk jalan bagi hidup ini. Amin.
Mazmur 86:11, "Tunjukkanlah kepadaku jalan-Mu, ya TUHAN, supaya aku hidup menurut kebenaran-Mu; bulatkanlah hatiku untuk takut akan nama-Mu".
Penunjuk jalan merupakan hal yang sangat penting dalam kehidupan kita sehari-hari. Dapat kita bayangkan bagaimana seorang sopir akan kebingungan dan bisa tersesat tak tahu arah tanpa petunjuk jalan. Sekarang agak mudah dengan adanya aplikasi GPS, kita input data alamat dan kita jalan maka GPS akan mengarahkan kita ke jalan yang hendak dituju sampau ke tujuan. Sebegitu canggihnya GPS kadang juga kita tersesat dan salah. Namun itu sudah membantu kita dalam perjalanan. Dalam perjalanan petunjuk jalan sangat penting agar sampai ke tujuan.
Bagaimana jika kita berjalan dalam traveling di hutan yang tidak ada petunjuk? Tak ada orang tempat bertanya. Sungguh gelap dan berjalan dalam ketidak-pastian. Jika dia berjalan ke utara atau selatan takut semakin terjebak dalam hutan, diam di tempat sama saja tak ada jalan pulang. Pengalaman seperti inilah yang dirasakan oleh pemazmur dalam menjalani hidup ini. Dia tidak mau berjalan tanpa petunjuk Tuhan. Dia hanya mau berjalan melalui petunjuk Tuhan.
Dalam hidup ini banyak hal yang tidak kita tahu, jalan yang nampak seolah mulus seperti jalan tol namun di jalan tol banyak kenderaan tabrakan beruntun. Ada jalan yang seolah sulit, terjal dan seram berliku namun orang lalu lalang dan selamat. Jalan hidup ini memang demikian, kita tidak tahu apa yang akan terjadi hari ini, kita tidak tahu apa aral yang ada di depan kita; mungkin jebakan, ancaman, intimidasi dan teror. Sekalipun demikian kita tidak boleh berhenti, karena hidup ini harus tetap berjalan. Namun jalan yang harus kita lalui adalah jalan yang berdasarkan petunjuk Tuhan. Janganlah lalui jalan yang tidak dikehendaki oleh Allah. Firman telah memberitahukan kepada kita apa yang harus kita lakukan dan yang tidak kita lakukan. Berjalanlah bersama terang Tuhan. Itu pesan PERTAMA dari renungan ini.
KEDUA, pemazmur memohon kepada Tuhan agar hatinya bulat untuk takut kepada nama Tuhan. Hati ibarat mesin yang menggerakkan dalam kenderaan. Demikian hati manusia menggerakkan manusia melakukan sesuatu. Hati nurani yang disertai takut akan Tuhan akan berjalan sesuai dengan kehendakNya. Namun hati yang sudah tidak ada nurani, yang di dalamnya ada kebencian, ambisi, hawa nafsu, dan keinginan yang tinggi menggapai kepentingan diri bisa saja berjalan tanpa petunjuk Tuhan. Tidak sedikit ada tindakan konyol dan tega menghabisi orang lain demi mencapai kentingan diri. Di sinilah pemazmur meminta pertolongan Tuhan agar tetap menjaga hatinya selalu takut akan Tuhan.
Oh Tuhan berilah petunjuk-Mu, doa permohonan minta tolong yang selalu menguatkan kita dalam perjalanan hidup ini. Demikian kita dalam menjalani hari-hari kita, yang terkadang bergumul, berbeban berat dan berjalan di jalan yang tidak tahu arah. Mintalah petunjuk Tuhan, Dia selalu berkenan memberikan petunjuk jalan bagi hidup ini. Amin.
Langganan:
Postingan (Atom)