Selamat kepada Remaja HKBP Sutoyo, yang telah menang sebagai (Juara terfavorit)
dalam lomba short movie di acara HKBP JATIWARINGIN CUP 2, Semoga dapat
terus berkarya dengan Memuji nama Tuhan Yesus.
Huria Kristen Batak Protestan (HKBP) Sutoyo Jln. LetJend. Sutoyo, Jakarta Timur - Indonesia
Senin, 10 Juli 2017
Minggu, 09 Juli 2017
Test Calon Pemusik dan Guru Sekolah Minggu HKBP Sutoyo
Test Calon Pemusik dan Guru Sekolah Minggu HKBP Sutoyo; yang telah melayani lebih dari 6 (enam) bulan di Sekolah Minggu HKBP Sutoyo, dihadiri oleh Wali kelas, Koordinator Seksi, BPH Inti, CSt. P. Sitorus (Pendamping Sekolah Minggu) St. S. Sijabat (Ketua Koinonia) dan Pdt. Lucius TB. Pasaribu, S.Th. (Pendeta Resort HKBP Sutoyo).
Sabtu, 08 Juli 2017
"MENJAGA DIRI" Renungan Harian Pdt.Lucius T.B.Pasaribu, S.Th
MENJAGA DIRI
Mazmur 18:23, "Aku berlaku tidak bercela di hadapan-Nya, dan menjaga diri terhadap kesalahan".
Kita pasti setuju bahwa manusia tidak ada yang sempurna; semua punya kelemahan masing-masing dan pernah salah. Namun ungkapan ini harus dicermati karena sering menjadi dalih untuk memaklumi keadaan dan membenarkan kesalahan. Ungkapan di atas sesungguhnya agar kita membuka ruang memahami orang lain yang jauh dari harapan, bukan untuk membenarkan kesalahan. Setiap orang harus dimotivasi agar memiliki semangat untuk melakukan yang terbaik. Jika salah segera perbaiki dan berusaha untuk lebih baik. Demikialah di pagi hari ini, pemazmur memiliki komitment berusaha untuk tidak bercela di hadapan Tuhan dan menjaga diri agar tidak jatuh dalam berbagai kesalahan.
Mengapa pemazmur berusaha tidak bercela di hadapan Tuhan dan menjaga diri terhadap kesalahan? Jawabannya adalah rasa takjub dan takut akan Tuhan. Jika kita baca Mazmur 18 ini keseluruhan, ada suatu benang merah: pada ayat 1-6 masalah yang dihadapi pemazmur hingga dia hampir mati: tali maut telah melilitnya, terjebak dalam perangkap maut. Ibarat orang yang hamir mati karena tenggelam. Namun ayat 7-13 Tuhan menolong dan melindunginya. Tuhan adalah penyelamat, pelindung dan perisainya. Atas pertolongan yang dirasakannya, pemazmur semakin setia dan mengikuti jalan Tuhan. Pemazmur bertekad untuk berlaku tidak bercela dan menjaga diri dari kesalahan bukan karena tekanan, namun karena panggilan hati dan hormat kepada Tuhan.
Untuk mendalami renungan ini dapat kita buat contoh sederhana. Jika seorang pemuda mencintai seorang gadis pujaan hatinya, pasti dia berusaha melakukan apa yang terbaik sesuai dengan yg diharapkan kekasihnya. Dia berusaha agar tidak mengecewakan namun tampil menjadi orang terbaik yang dikenalnya. Demikian juga kita dalam hidup keluarga, berbagai hal kita lakukan yang terbaik untuk keluarga agar istri/suami dan anak-anak. Kita adalah kebanggaan mereka, karena itu tak akan mengecewakan mereka.
Demikianlah pemazmur dalam renungan ini; bertekad dan berkomitmet akan hidup tidak bercela dihadapan Tuhan dan berusaha agar tidak jatuh dalam berbagai kesalahan yang mendukakan hati Tuhan.
Marilah ikut seperti komitmen pemazmur ini; berusaha melakukan yang terbaik, jauhkan dari diri kita perbuatan yang bercela dan merendahkan kita sebagai anak-anak terang. Kita mahal dan berharga di mata Tuhan. Amin.
Jumat, 07 Juli 2017
"MENCARI DAN MENYELAMATKAN YANG HILANG" Renungan Harian Pdt.Lucius T.B.Pasaribu, S.Th
"MENCARI DAN MENYELAMATKAN YANG HILANG"
Lukas 19:10, "Sebab Anak Manusia datang untuk mencari dan menyelamatkan yang hilang".
Ada satu kisah menarik dari Bhiksu Ajahn Brahm dalam buku Si Cacing dan Kotoran Kesayangannya (Kumpulan cerita motivasi dan inspirasi) yang mungkin sangat menarik dan inspiratif bagi kita:
Seorang ibu muda datang ke tabib untuk meminta saran bagaimana dia bisa cerai dan melepaskan diri dari beban keluarga yang ditanggungnya selama ini. Dia sudah mencoba melayani suaminya dengan baik dan mertuanya karena maklum mereka masih tinggal di rumah mertua. Namun setiap apa yang dilakukannya tidak pernah dihargai, bahkan mendapat omelan yang macam-macam. Hari-harinya pun murung, boring dan suasana rumah bagaikan neraka. Itulah alasannya bagaimana memutuskan semua ini dan meminta saran dari tabib. Sang tabib memaklumi perasaan sang ibu muda, begitu dalamnya pergumulan yang dihadapinya. Maka sang tabib pùn akhirnya memberi saran: kalau cerai tidak boleh karena dilarang oleh agama, dibarengi adat juga membuat malu keluarga. Maka lebih baik diberikan racikan yang akan diberi setiap menyajikan masakan bagi suami dan mertuanya agar mereka mati perlahan. Namun agar mereka tak curiga: berusahalah ramah, gembira dan hadapilah semunya dengan senyum tanpa beban, anggap saja tidak ada masalah. Hilangkan wajah murung dan menggerutu. Sang ibu muda pun menyanggupinya dan tepat di hatinya. Dia pun melakukannya dengan gembira, senyum setiap hari dan penuh perhatian terhadap suami dan mertuanya tanpa beban dan tak lupa meneteskan racikan tabib. Demikianlah hari-harinya berlalu dan berharap semuanya akan berakhir. Namun apa yang terjadi? Keluarga ini penuh bahagia, senyum dan tawa mulai mewarnai mereka sepanjang hari, mereka liburan bersama dan merasakan bahagia. Kebahagiaan itu bukan lah pura-pura namun benar-benar merasakan kehangatan, perhatian dan kasih sayang dalam keluarga.
Hari, minggu dan tiga bulan purnama pun berlalu. Dia pergi ke tabib menyesali keadaan kalau-kalau suami dan mertuanya mati sebagaimana rencana tabib. Dia memohon dan menangis agar ada obat penawar yang dapat diberikan tabib. Tabib pun menjawab tidak ada obatnya semuanya sudah terlanjur. Sang ibu muda pun menangis menyesali keadaan karena dia sudah merasakan kebahagiaan dan tak mau itu berakhir. Namun tabib tersenyum dan berkata: pulanglah engkau telah menemukan kebahagiaanmu. Racikan yang diberikan hanyalah bumbu vitamin. Yang mengubah keadaan adalah sikapnya yang baik pada suami dan mertuanya. Sang ibu muda pun bahagia dan menikmati kebahagiaannya.
Kisah di atas satu dari sekian contoh agar jangan cepat mengambil keputusan jika ada masalah. Berusahalah dulu memperbaikinya dengan mengubah sikap dari diri kita dan juga orang yang kita harapkan berubah.
Yesus dalam renungan pagi ini bersabda : Anak manusia datang untuk mencari dan menyelamatkan yang hilang. Kita telah diampuni dan dimaafkan oleh kasihNya yang begitu besar. Dia tidak mengingat-ingat kesalahan kita, tidak membalaskan seturut dengan perbuatan kita. Oleh dosa kita telah tersesat dan jauh dari kasih karunia dan kebahagiaan. Namun oleh kasihNya seperti seorang gembala yang mencari domba yang tersesat, demikian Tuhan Yesus datang menjemput kita agar dirangkul dalam kasih sayangNya. Dia tidak bahagia, jika ada dari antara dombaNya yang tidak berkumpul dalam kawanan domba.
Demikian pula kita dalam kehidupan keluarga dan pekerjaan. Jika ada yang kurang tepat di hati, jangan terlalu cepat mengambil keputusan apalagi dengan angkara murka yang membuat keadaan lebih buruk. Namun mari dengan pikiran yang tenang dan berusaha memperbaikinya agar kebahagiaan tidak direnggut oleh masalah. Jangan biarkan kebahagiaanmu hilang oleh masalah. Cari dan temukan, Tuhan Yesus menolong kita. Amin.
Lukas 19:10, "Sebab Anak Manusia datang untuk mencari dan menyelamatkan yang hilang".
Ada satu kisah menarik dari Bhiksu Ajahn Brahm dalam buku Si Cacing dan Kotoran Kesayangannya (Kumpulan cerita motivasi dan inspirasi) yang mungkin sangat menarik dan inspiratif bagi kita:
Seorang ibu muda datang ke tabib untuk meminta saran bagaimana dia bisa cerai dan melepaskan diri dari beban keluarga yang ditanggungnya selama ini. Dia sudah mencoba melayani suaminya dengan baik dan mertuanya karena maklum mereka masih tinggal di rumah mertua. Namun setiap apa yang dilakukannya tidak pernah dihargai, bahkan mendapat omelan yang macam-macam. Hari-harinya pun murung, boring dan suasana rumah bagaikan neraka. Itulah alasannya bagaimana memutuskan semua ini dan meminta saran dari tabib. Sang tabib memaklumi perasaan sang ibu muda, begitu dalamnya pergumulan yang dihadapinya. Maka sang tabib pùn akhirnya memberi saran: kalau cerai tidak boleh karena dilarang oleh agama, dibarengi adat juga membuat malu keluarga. Maka lebih baik diberikan racikan yang akan diberi setiap menyajikan masakan bagi suami dan mertuanya agar mereka mati perlahan. Namun agar mereka tak curiga: berusahalah ramah, gembira dan hadapilah semunya dengan senyum tanpa beban, anggap saja tidak ada masalah. Hilangkan wajah murung dan menggerutu. Sang ibu muda pun menyanggupinya dan tepat di hatinya. Dia pun melakukannya dengan gembira, senyum setiap hari dan penuh perhatian terhadap suami dan mertuanya tanpa beban dan tak lupa meneteskan racikan tabib. Demikianlah hari-harinya berlalu dan berharap semuanya akan berakhir. Namun apa yang terjadi? Keluarga ini penuh bahagia, senyum dan tawa mulai mewarnai mereka sepanjang hari, mereka liburan bersama dan merasakan bahagia. Kebahagiaan itu bukan lah pura-pura namun benar-benar merasakan kehangatan, perhatian dan kasih sayang dalam keluarga.
Hari, minggu dan tiga bulan purnama pun berlalu. Dia pergi ke tabib menyesali keadaan kalau-kalau suami dan mertuanya mati sebagaimana rencana tabib. Dia memohon dan menangis agar ada obat penawar yang dapat diberikan tabib. Tabib pun menjawab tidak ada obatnya semuanya sudah terlanjur. Sang ibu muda pun menangis menyesali keadaan karena dia sudah merasakan kebahagiaan dan tak mau itu berakhir. Namun tabib tersenyum dan berkata: pulanglah engkau telah menemukan kebahagiaanmu. Racikan yang diberikan hanyalah bumbu vitamin. Yang mengubah keadaan adalah sikapnya yang baik pada suami dan mertuanya. Sang ibu muda pun bahagia dan menikmati kebahagiaannya.
Kisah di atas satu dari sekian contoh agar jangan cepat mengambil keputusan jika ada masalah. Berusahalah dulu memperbaikinya dengan mengubah sikap dari diri kita dan juga orang yang kita harapkan berubah.
Yesus dalam renungan pagi ini bersabda : Anak manusia datang untuk mencari dan menyelamatkan yang hilang. Kita telah diampuni dan dimaafkan oleh kasihNya yang begitu besar. Dia tidak mengingat-ingat kesalahan kita, tidak membalaskan seturut dengan perbuatan kita. Oleh dosa kita telah tersesat dan jauh dari kasih karunia dan kebahagiaan. Namun oleh kasihNya seperti seorang gembala yang mencari domba yang tersesat, demikian Tuhan Yesus datang menjemput kita agar dirangkul dalam kasih sayangNya. Dia tidak bahagia, jika ada dari antara dombaNya yang tidak berkumpul dalam kawanan domba.
Demikian pula kita dalam kehidupan keluarga dan pekerjaan. Jika ada yang kurang tepat di hati, jangan terlalu cepat mengambil keputusan apalagi dengan angkara murka yang membuat keadaan lebih buruk. Namun mari dengan pikiran yang tenang dan berusaha memperbaikinya agar kebahagiaan tidak direnggut oleh masalah. Jangan biarkan kebahagiaanmu hilang oleh masalah. Cari dan temukan, Tuhan Yesus menolong kita. Amin.
Kamis, 06 Juli 2017
"JANJINYA TEPAT" Renungan Harian Pdt.Lucius T.B.Pasaribu, S.Th
JANJINYA TEPAT
Yesaya 43:13, "Juga seterusnya Aku tetap Dia, dan tidak ada yang dapat melepaskan dari tangan-Ku; Aku melakukannya, siapakah yang dapat mencegahnya?"
Ada dialektika dalam diri bangsa Israel ketika menjalani pembuangan. Di satu sisi mereka percaya kepada kemahakuasaan Tuhan, namun di sisi lain mereka sulit menerima kenyataan dalam pembuangan dan ketidak-berdayaan mereka atas kekuasaan Babilonia. Banyak yang semakin ragu, di manakah kemahakuasaan Allah dan di manakah janjiNya? Bukankah mereka adalah umat pilihan dan Tuhan berjanji akan melindungi mereka dari bangsa asing, memberkati mereka panjang umur di tanah yang diberikan Tuhan Allah kepada mereka? Sulit menerima kenyataan hidup dalam pembuangan.
Nabi Yesaya menyuarakan pengharapan Mesianis bersama nabi-nabi lainnya, bahwa Allah akan menepati janjiNya membebaskan mereka dari pembuangan Babel dan memulihkan keadaan Yerusalem. Tidak ada kekuatan lain yang dapat membebaskan mereka. Keselamatan hanya ada di tangan Tuhan. Sekali Tuhan berjanji tidak ada yang dapat melepaskan Israel kecuali tanganNya sendiri.
Yesaya menantang umat dalam pembuangan bahwa mereka akan menjadi saksi dari pemenuhan janji Tuhan, yaitu membebaskan mereka dari pembuangan Babilonia. Karena itu jangan berpengharapan kepada ilah lain atau kekuatan apapun itu untuk menawarkan pembebasan alternatif atau nubuatan-nubuatan palsu yang memberitakan damai dan pembebasan umatNya atas nama Tuhan. Jangan percaya pada nubuatan yang enak di dengar namun jauh dari kebenaran. Mereka hanya nabi palsu yang menyesatkan. Tuhan sendiri akan membebaskan umatNya, namun mereka harus menjalani pembuangan untuk memurnikan mereka. Seperti pandai besi yang memurnikan besi setelah memasukkannya dalam tuangan peleburan atau seperti tukang periuk yang membentuk seturut dengan kehendaknya.
Tuhan akan menepati janjiNya. FirmanNya tidak pernah kembali sia-sia. Sekali Ia berfirman, 'jadilah', maka jadilah demikian. "Demikianlah firman-Ku yang keluar dari mulut-Ku: ia tidak akan kembali kepada-Ku dengan sia-sia, tetapi ia akan melaksanakan apa yang Kukehendaki, dan akan berhasil dalam apa yang Kusuruhkan kepadanya" (Yes 55:11).
Inilah firman Tuhan yang meneguhkan kita kepada pengharapan. Tuhan itu Mahakuasa, apa yang difirmankanNya akan digenapi seturut dengan kehendakNya. Inilah harapan bagi kita, Tuhan akan mendengar dan menjawab doa kita. Janjinya tepat waktu dan baik bagi kita. Amin.
Yesaya 43:13, "Juga seterusnya Aku tetap Dia, dan tidak ada yang dapat melepaskan dari tangan-Ku; Aku melakukannya, siapakah yang dapat mencegahnya?"
Ada dialektika dalam diri bangsa Israel ketika menjalani pembuangan. Di satu sisi mereka percaya kepada kemahakuasaan Tuhan, namun di sisi lain mereka sulit menerima kenyataan dalam pembuangan dan ketidak-berdayaan mereka atas kekuasaan Babilonia. Banyak yang semakin ragu, di manakah kemahakuasaan Allah dan di manakah janjiNya? Bukankah mereka adalah umat pilihan dan Tuhan berjanji akan melindungi mereka dari bangsa asing, memberkati mereka panjang umur di tanah yang diberikan Tuhan Allah kepada mereka? Sulit menerima kenyataan hidup dalam pembuangan.
Nabi Yesaya menyuarakan pengharapan Mesianis bersama nabi-nabi lainnya, bahwa Allah akan menepati janjiNya membebaskan mereka dari pembuangan Babel dan memulihkan keadaan Yerusalem. Tidak ada kekuatan lain yang dapat membebaskan mereka. Keselamatan hanya ada di tangan Tuhan. Sekali Tuhan berjanji tidak ada yang dapat melepaskan Israel kecuali tanganNya sendiri.
Yesaya menantang umat dalam pembuangan bahwa mereka akan menjadi saksi dari pemenuhan janji Tuhan, yaitu membebaskan mereka dari pembuangan Babilonia. Karena itu jangan berpengharapan kepada ilah lain atau kekuatan apapun itu untuk menawarkan pembebasan alternatif atau nubuatan-nubuatan palsu yang memberitakan damai dan pembebasan umatNya atas nama Tuhan. Jangan percaya pada nubuatan yang enak di dengar namun jauh dari kebenaran. Mereka hanya nabi palsu yang menyesatkan. Tuhan sendiri akan membebaskan umatNya, namun mereka harus menjalani pembuangan untuk memurnikan mereka. Seperti pandai besi yang memurnikan besi setelah memasukkannya dalam tuangan peleburan atau seperti tukang periuk yang membentuk seturut dengan kehendaknya.
Tuhan akan menepati janjiNya. FirmanNya tidak pernah kembali sia-sia. Sekali Ia berfirman, 'jadilah', maka jadilah demikian. "Demikianlah firman-Ku yang keluar dari mulut-Ku: ia tidak akan kembali kepada-Ku dengan sia-sia, tetapi ia akan melaksanakan apa yang Kukehendaki, dan akan berhasil dalam apa yang Kusuruhkan kepadanya" (Yes 55:11).
Inilah firman Tuhan yang meneguhkan kita kepada pengharapan. Tuhan itu Mahakuasa, apa yang difirmankanNya akan digenapi seturut dengan kehendakNya. Inilah harapan bagi kita, Tuhan akan mendengar dan menjawab doa kita. Janjinya tepat waktu dan baik bagi kita. Amin.
Rabu, 05 Juli 2017
"BERTEKUNLAH DALAM DOA" Renungan Harian Pdt.Lucius T.B.Pasaribu, S.Th
BERTEKUNLAH DALAM DOA
Kolose 4:2, "Bertekunlah dalam doa dan dalam pada itu
berjaga-jagalah sambil mengucap syukur".
Agnes Monica hidup tahun 325-387 M, tinggal di Tagaste
Afrika Utara. Dia dan suaminya sangat mengeluh atas sikap anaknya bernama
Agustinus. Namun Agnes Monica seorang yang saleh dan tekun dalam doa. Dia terus
mendoakan anaknya setiap hari: seolah dia tak membiarkan matahari terbit
sebelum mendoakan anaknya, dan tidak membiarkan malam berlalu sebelum mendoakan
anaknya. Demikianlah hari-hari yang dijalani penuh dengan doa untuk anaknya.
Tuhan pun mendengarkan doanya. Pada umur 17 tahun Agustinus berubah setelah
menemukan secarik kertas bertuliskan Roma 13:13, "Marilah kita hidup
dengan sopan, seperti pada siang hari, jangan dalam pesta pora dan kemabukan,
jangan dalam percabulan dan hawa nafsu, jangan dalam perselisihan dan iri
hati"
Kata-kata ini membuat Agustinus penasaran dan bertanya
kepada ibunya apa arti tulisan tersebut. Akhirnya ibunya membawa Agustinus ke
Seminare untuk belajar teologi. Dia sangat tekun belajar dan menjadi hamba
Tuhan dan Uskup yang sangat terkenal bahkan menjadi Bapa Gereja yang sangat
dihormati.
Pengalaman Agnes Monica ini adalah salah satu contoh dalam
hidup orang percaya bahwa doa itu sangat kuat kuasanya untuk mengubah
kehidupann yang mungkin sangat sulit sekali diubah. Doa membuka ruang dari
ketidak mungkinan menjadi mungkin karena di dalam doa memberikan ruang bagi
Tuhan menentukan apa yang akan terjadi dalam hidup kita. Mungkin masih banyak
pengalaman rohani orang percaya atau pengalaman pribadi kita masing-masing yang
membuktikan bahwa doa itu sangat besar kuasanya.
Hari ini firman Tuhan menyapa kita untuk bertekun di dalam
doa. Doa adalah nafas kehidupan orang beriman (M.Luther). Istilah ini sangat
penting agar hidup oramg percaya tidak terlepas dari doa. Berhenti bernafas
berarti kita telah mati. Mungkin istilah ini amat keras dari Luther, namun
sangat tepat karena orang percaya hidup
dalam pertumbuhan iman yang baik. Jika berdoa banyak manfaatnya, mengapa malas
berdoa? Bertekun dalam doa, melanjutkan hidup dan semakin banyak bermanfaat
dalam hidup ini.
Doa mengingatkan kita akan keterbatasan kita dan ketidak-
terbatasan Allah, karena itu doa selalu membuka harapan. Di dalam doa kita
mengingat Tuhan atas segala kasih dan karuniaNya. Setiap kita berdoa, kita akan
bersyukur karena di dalam doa kita mengingat Tuhan yang selalu mengangkat
tangganNya memberkati kita. Inilah kebaikan Tuhan yang selalu kita syukuri.
Oleh karena itu, marilah bertekun di dalam doa, bersyukur
selalu dalam hidup dan penuh ceria menyongsong hidup yang penuh harapan. Di
dalam doa ada kepastian sebagaimana Yesus bersabda: "Dan apa saja yang
kamu minta dalam doa dengan penuh kepercayaan, kamu akan menerimanya"
(Mat. 21:22).
Langganan:
Postingan (Atom)



