BERAKAR DAN BERDASARKAN KASIH
Efesus 3:14,17, "Itulah sebabnya aku sujud kepada Bapa,
sehingga oleh imanmu Kristus diam di dalam hatimu dan kamu berakar serta berdasar di dalam kasih".
Satu keunikan tersendiri dalam ajaran kekristen adalah kasih: mengasihi Allah dan sesama bahkan mengasihi musuh. Kekristenan tidak pernah mengajarkan kebencian, kekerasan dan pembalasan. Namun meneladani Yesus yang penuh kasih bahkan mengorbankan hidupNya dengan mati di kayu salib demi menyelamatkan manusia dari dosa dan kematian. Dengan demikian, hidup orang percaya adalah didasari oleh kasih. Allah telah lebih dahulu mengasihi kita, maka hidup kita adalah meneladani kasih Yesus.
Berakar dan berdasarkan kasih datang dari dua istilah. Berakar adalah dunia tumbuhan. Sebatang pohon tidak akan bertumbuh dengan baik jika akarnya tidak baik. Kekuatan pohon dan pertumbuhannya ada pada akarnya. Dengan demikian tak mungkin pohon menghasilkan buah jika akarnya tidak kuat. Disini Paulus memberikan contoh pertumbuhan iman berakar di dalam kasih maka akan menghasilkan buah-buah kasih di dalam hidupnya.
Sedangkan istilah "berdasar" kasih punya dua makna yang bisa kita kembangkan. Pertama: istilah bangunan. Bbangunan akan berdiri kokoh jika dasar atau fondasinya berdiri di atas landasan yang kuat. Makna kedua adalah datang dari motivasi: manusia bertindak tentu didasarkan pada motivasi dasar. Motivasi dasar itu ada di dalam hati dan nurani manusia itu sendiri. Setiap orang melakukan suatu tindakan selalu ada motivasi dasarnya. Jadi berdasarkan kasih memiliki makna yang lebih luas, iman yang kokoh harus hidup di dalam kasih. Makna kedua hendak menjelaskan jadikanlah kasih sebagai landasan berpikir dan berbuat. Sebagaimana pesan Tuhan Yesus: apa yang engkau kehendaki orang perbuat kepadamu, lakukanlah itu kepadanya. Jangan mengharapkan orang melakukan ini dan itu pada hidupmu, tapi kamu sendiri tidak melakukan apa-apa.
Atas hal ini saya jadi ingat kisah Mahadma Gandhi ketika kuliah di Ingris. Dia tinggal di rumah kos keluarga sederhana. Ibu kostnya mengeluh kepada Gandhi agar menasihati anaknya yang terlalu banyak makan gula. Nasihat ini tentu sangat diharapkan disampaikan Gandhi karena anak itu sang dekat dengan dia. Gandhi pun mengiyakan, akan menasihatnya. Hari berlalu dan minggu pun lewat tidak ada perubahan keadaan hingga satu bulan. Maka si ibu kost menanya kembali apakah pesannnya sudah disampaikan? Karena kebiasaan makan gulanya tak berkurang maka Gandhi menjawab: ya, sudah saya sampaikan tadi pagi. Sontak ibu berpikir kenapa baru disampaikan. Selidik punya selidik alasan Gandhi adalah selama ini ia tidak menasihatinya selama si anak masih melakukannya. Baru setelah dia berhenti makan gula Gandhi berani menasihati anak ibu kostnya agar tidak makan gula. Suatu contoh kongkrit dalam teladan hidup.
Berakar dan berdasarkan kasih yang jadi renungan di pagi hari ini sangat menggugah hati kita. Kemarin malam saya membuka media sosial, banyak berita tentang pembakaran papan bunga Ahok-Djarot di depan Balai Kota. Bunga pun dibakar dan dibenci. Ini suatu keadaan yang sangat disesalkan. Semoga kasih dapat menggantikan kebencian, amarah dan dendam di dalam hati mereka. Kejadian ini mengingatkan kita jangan biarkan akar pahit bertumbuh di dalam diri kita, tetapi berakarlah di dalam kasih yang membuahkan perbuatan2 kasih kita kepada sesama. Amin.
Huria Kristen Batak Protestan (HKBP) Sutoyo Jln. LetJend. Sutoyo, Jakarta Timur - Indonesia
Selasa, 02 Mei 2017
Senin, 01 Mei 2017
"TUKANG PERIUK ATAS TANAH LIAT" Renungan Harian Pdt.Lucius T.B.Pasaribu, S.Th
TUKANG PERIUK ATAS TANAH LIAT
Yeremia 18:6, "Masakan Aku tidak dapat bertindak kepada kamu seperti tukang periuk ini, hai kaum Israel!, demikianlah firman TUHAN. Sungguh, seperti tanah liat di tangan tukang periuk, demikianlah kamu di tangan-Ku, hai kaum Israel!"
Jika Anda pernah berkunjung ke pengerajin tembikar, maka sangat mudah memahami teks renungan di pagi hari ini. Tembikar adalah berbagai karya yang terbuat dari tanah liat seperti: periuk, kendi air, pot bunga atau vas bunga, dan keperluan lainnya. Tukang tembikar memilih tanah liat, mengolahnya dan membentuknya sesuai dengan keinginannya. Jika tidak sesuai dia segera mememecahkannya dan mengulang lagi sampai sesuai dengan yang diinginkannya. Tembikar jadi menurut kehendak pembuatnya. Tidak ada tembikar yang menginginkan bentuknya yang begini dan begitu tetapi sepenuhnya tergantung kepada pembuatnya. Kuasa mutlak atau otoritas sepenuhnya tergantung pada tukangnya.
Demikianlah Yeremia membuat contoh bagi umat Allah dalam pembuangan. Seperti tukang periuk atau tembikar atas tanah liat demikian otoritas Allah membentuk umatNya. Jaman Yeremia hal sangat mudah dicerna, karena alat alat rumah tangga sepeti periuk, kendi air, dll masih banyak terbuat dari tanah liat. Semua peralatan ini dibentuk menurut kehendak tukang periuk: mulai dari memilih jenis tanah, menumbuknya sampai halus, membentuk melalui suatu seni khusus hingga pengeringan sehingga menjadi bentuk jadi. Menurut Yeremia, demikian umat Allah yang tidak setia terus dalam pembentukan. Dengan contoh ini pembentukan Israel menjadi umat Allah dan Allah menjadi Allah mereka terus menerus terjadi, bukan hanya jaman bapak leluhur Abraham, Ishak dan Yakub, zaman Musa hingga raja-raja sàmpai ke pembuangan masih terus dalam upaya pembentukan umatnya yang sesuai dengan kehendak Allah.
Penjelasan Yeremia hal situasi pembuangan menimbulkan harapan baru, bahwa situasi ini adalah bahagian dari rencana Allah untuk membentuk umatNya seturut dengan kehendakNya. Pembuangan bukanlah penghangusan atas umat Israel. Dengan contoh ini pembuangan bukanlah kisah akhir perjalanan umatNya, tetapi bagian dari tahapan rencana Allah.
Apa yang menarik disini adalah marilah kita menyerahkan diri dibentuk oleh Allah. Allah telah mengasihi kita dan memilih kita menjadi umat pilihan, umat kesayanganNya. Jika kita memasuki situasi situasi baru, marilah kita serahkan sepenuhnya kepada Allah karena itu bahagian dari pembentukan rencana indah Allah. Amin.
Yeremia 18:6, "Masakan Aku tidak dapat bertindak kepada kamu seperti tukang periuk ini, hai kaum Israel!, demikianlah firman TUHAN. Sungguh, seperti tanah liat di tangan tukang periuk, demikianlah kamu di tangan-Ku, hai kaum Israel!"
Jika Anda pernah berkunjung ke pengerajin tembikar, maka sangat mudah memahami teks renungan di pagi hari ini. Tembikar adalah berbagai karya yang terbuat dari tanah liat seperti: periuk, kendi air, pot bunga atau vas bunga, dan keperluan lainnya. Tukang tembikar memilih tanah liat, mengolahnya dan membentuknya sesuai dengan keinginannya. Jika tidak sesuai dia segera mememecahkannya dan mengulang lagi sampai sesuai dengan yang diinginkannya. Tembikar jadi menurut kehendak pembuatnya. Tidak ada tembikar yang menginginkan bentuknya yang begini dan begitu tetapi sepenuhnya tergantung kepada pembuatnya. Kuasa mutlak atau otoritas sepenuhnya tergantung pada tukangnya.
Demikianlah Yeremia membuat contoh bagi umat Allah dalam pembuangan. Seperti tukang periuk atau tembikar atas tanah liat demikian otoritas Allah membentuk umatNya. Jaman Yeremia hal sangat mudah dicerna, karena alat alat rumah tangga sepeti periuk, kendi air, dll masih banyak terbuat dari tanah liat. Semua peralatan ini dibentuk menurut kehendak tukang periuk: mulai dari memilih jenis tanah, menumbuknya sampai halus, membentuk melalui suatu seni khusus hingga pengeringan sehingga menjadi bentuk jadi. Menurut Yeremia, demikian umat Allah yang tidak setia terus dalam pembentukan. Dengan contoh ini pembentukan Israel menjadi umat Allah dan Allah menjadi Allah mereka terus menerus terjadi, bukan hanya jaman bapak leluhur Abraham, Ishak dan Yakub, zaman Musa hingga raja-raja sàmpai ke pembuangan masih terus dalam upaya pembentukan umatnya yang sesuai dengan kehendak Allah.
Penjelasan Yeremia hal situasi pembuangan menimbulkan harapan baru, bahwa situasi ini adalah bahagian dari rencana Allah untuk membentuk umatNya seturut dengan kehendakNya. Pembuangan bukanlah penghangusan atas umat Israel. Dengan contoh ini pembuangan bukanlah kisah akhir perjalanan umatNya, tetapi bagian dari tahapan rencana Allah.
Apa yang menarik disini adalah marilah kita menyerahkan diri dibentuk oleh Allah. Allah telah mengasihi kita dan memilih kita menjadi umat pilihan, umat kesayanganNya. Jika kita memasuki situasi situasi baru, marilah kita serahkan sepenuhnya kepada Allah karena itu bahagian dari pembentukan rencana indah Allah. Amin.
Minggu, 30 April 2017
PERJALANAN KE EMMAUS YANG MENCELIKKAN" Renungan Minggu Pdt.Lucius T.B.Pasaribu, S.Th
PERJALANAN KE EMMAUS YANG MENCELIKKAN (Luk. 24:13-35)
Minggu, 30 April 2017
Minggu, 30 April 2017
Yesus menampakkan diri berulang-ulang selama 40 hari, begitu dicatat oleh Lukas (Kis. 1:3), untuk membuktikan bahwa Ia hidup.
Boleh dikatakan 40 hari waktu yang cukup lama untuk belajar tentang kebangkitan, sebab kebangkitan adalah cerita baru, fakta ilahi di kehidupan dunia(wi). Bagaimana mungkin?, begitu bergolak di hati murid, juga di hati kita. Itu yang mereka percakapkan di jalan menuju Emaus. Lalu Yesus menghampiri dan berjalan bersama mereka (ayat 15). Cerita sederhana kan? Ada orang berjalan, ada obrolan, dan ada yang bergabung!
(1) Pertanyaan Yesus memecah kemuraman tetapi awal pencerahan. Ini pertanyaan ilahi seperti Allah bertanya kepada Adam, di manakah engkau? Seorang murid heran karena ada orang yang tidak tahu peristiwa yang baru saja terjadi (bangkitnya Yesus). Mereka juga heran mengapa seorang "nabi yang berkuasa" disalibkan oleh para imam (ay 17-20). Seorang pahlawan pembebasan yang perkasa mengecewakan mereka. Di sini cara berpikir manusia dikecewakan oleh cara berpikir Allah: Yesus, Mesias harus menderita untuk masuk ke dalam kemuliaan (ay 25-26).
(2) Jangan bodoh! Orang yang tidak mengerti tentang kebangkitan disebut orang BODOH (ay 25). Tuhan membutuhkan orang cerdas agar mampu memahami tindakanNya. Lalu Yesus menjelaskan, mengajar mereka. Kita juga harus belajar agar jangan jadi BODOH. Orang bodoh akan sulit mengerti tentang perubahan/perkembangan, dan cenderung menyalahkan Tuhan. Pengertian lahir karena pengajaran. Apakah kita sudah maksimal belajar?
(3) Setelah Yesus memasuki rumah atas undangan para murid, kembali Ia mengajar, jamuan di Israel salah satu media pengajaran, disebut "table talk" (ay 30-31).
(4) Sesudah perjumpaan dengan Yesus mereka meceritakan perjumpaan itu. Mereka menjadi pencerita (the story tellers) yang mengerti pokok soal dan inti kebangkitan! Mereka telah berubah: dari muram menjadi ceria, dicerahkan! Sungguh, kasih karunia-Nya memenuhi bumi, Miserikordias Domini. Amin.
Sabtu, 29 April 2017
"DOA UNTUK PEMBERITAAN INJIL" Renungan Harian Pdt.Lucius T.B.Pasaribu, S.Th
DOA UNTUK PEMBERITAAN INJIL
Kolose 4:3, "Berdoa jugalah untuk kami, supaya Allah membuka pintu untuk pemberitaan kami, sehingga kami dapat berbicara tentang rahasia Kristus, yang karenanya aku dipenjarakan".
Satu misteri yang sangat menarik dari hidup Paulus adalah terletak pada prinsipnya dalam pelayanan: Bagiku hidup adalah Kristus dan mati adalah keuntungan. (baca Fil 1:21). Kedua hal ini ( hidup dan mati) membuat dia orang yang sangat tidak terbeban menjalani hidupnya. Hidup dan mati adalah kebahagiaan. Itulah sebabnya Paulus bekata: "karena aku hidup bukan lagi aku sendiri yang hidup tetapi Kristus yang hidup di dalam Aku" (Gal 2:20). Jadi apa yang terjadi dalam hidup ini sepenunhnya diperuntukkan untuk Kristus. Hidup demikian menjadikan Paulus sepenuhnya mempersembahakan hidupnya untuk memberitakan Injil sampai ke ujung bumi. Bagi Paulus Injil harus di beritakan sampai ke ujung bumi sebelum Kristus datang dalam kemuliaan. Makanya tak ada waktu baginya untuk berlama-lama tinggal di suatu kota, dia berlari dari desa ke deaa dan dari satu kota ke kota lain agar missinya selesai sebelum kedatangan Kristus. Apapun yang terjadi dalam pemberitaan Injil, Paulus tidak takut dan khawatir, baik itu pengejaran, penganiayaan, penjara dan disesah dan penderitaan lainnya. Hal terpenting bagi Paulus adalah Injil harus diberitakan sampai ke ujung dunia. Kalau pun dia mati itu adalah keuntungan karena melalui kematian dia akan dimuliakan: hidup bersama dengan Allah dalam kehidupan kekal.
Atas prinsip hidup demikian, maka inilah permohonannya bagi seluruh jemaat: Berdoalah untuk pelayanan Pemberitaan Injil. Jemaat diharapkan Paulus mendukung pelayanannya melalui doa agar dia diberi kekuatan untuk memberitakan rahasia Kristus sampai ke ujung bumi. Kekuatan doa jemaat sangat berarti bagi tugas pelayanan Paulus. Kesediaan berdoa bagi jemaat untuk pelayanan Paulus tentu sangat penting. Membina hubungan atau komunikasi kepada Allah. Jika jemaat rutin dalam doa tentu hubungannya dengan Allah juga akan baik. Hal ini akan meningkatkan spiritualitas jemaat. Kemudian, jika kita berdoa untuk pemberitaan Injil, kita sudah turut ambil bagian dalam misi pemberitaan Injil itu.
Berdoalah untuk pemberitaan Injil, mendoakan hamba Tuhan dan pelayanannya. Banyak asumsi di kalangan jemaat bahwa hamba Tuhan atau pelayan adalah khususnya untuk melayani dan mendoakan jemaat. Maka doa adalah urusan hamba Tuhan. Itu benar dan hamba Tuhan pasti telah berdoa untuk jemaat dan pelayannnya. Renungan pagi ini menyapa kita agar jemaat berdoa untuk pelayanan hamba Tuhan, agar mereka diberikan kekuatan seperti Paulus yang mempersembahkan hidupnya sepenuhnya untuk memberitakan Kristus. Di beberapa gereja telah ada tim doa yang mendoakan hamba Tuhan dan program gerejanya. Hal seperti ini sangat bagus sehingga hamba Tuhan dan setiap pelayanannya dan program gereja benar-benar untuk kemuliaan Allah. Amin.
Kolose 4:3, "Berdoa jugalah untuk kami, supaya Allah membuka pintu untuk pemberitaan kami, sehingga kami dapat berbicara tentang rahasia Kristus, yang karenanya aku dipenjarakan".
Satu misteri yang sangat menarik dari hidup Paulus adalah terletak pada prinsipnya dalam pelayanan: Bagiku hidup adalah Kristus dan mati adalah keuntungan. (baca Fil 1:21). Kedua hal ini ( hidup dan mati) membuat dia orang yang sangat tidak terbeban menjalani hidupnya. Hidup dan mati adalah kebahagiaan. Itulah sebabnya Paulus bekata: "karena aku hidup bukan lagi aku sendiri yang hidup tetapi Kristus yang hidup di dalam Aku" (Gal 2:20). Jadi apa yang terjadi dalam hidup ini sepenunhnya diperuntukkan untuk Kristus. Hidup demikian menjadikan Paulus sepenuhnya mempersembahakan hidupnya untuk memberitakan Injil sampai ke ujung bumi. Bagi Paulus Injil harus di beritakan sampai ke ujung bumi sebelum Kristus datang dalam kemuliaan. Makanya tak ada waktu baginya untuk berlama-lama tinggal di suatu kota, dia berlari dari desa ke deaa dan dari satu kota ke kota lain agar missinya selesai sebelum kedatangan Kristus. Apapun yang terjadi dalam pemberitaan Injil, Paulus tidak takut dan khawatir, baik itu pengejaran, penganiayaan, penjara dan disesah dan penderitaan lainnya. Hal terpenting bagi Paulus adalah Injil harus diberitakan sampai ke ujung dunia. Kalau pun dia mati itu adalah keuntungan karena melalui kematian dia akan dimuliakan: hidup bersama dengan Allah dalam kehidupan kekal.
Atas prinsip hidup demikian, maka inilah permohonannya bagi seluruh jemaat: Berdoalah untuk pelayanan Pemberitaan Injil. Jemaat diharapkan Paulus mendukung pelayanannya melalui doa agar dia diberi kekuatan untuk memberitakan rahasia Kristus sampai ke ujung bumi. Kekuatan doa jemaat sangat berarti bagi tugas pelayanan Paulus. Kesediaan berdoa bagi jemaat untuk pelayanan Paulus tentu sangat penting. Membina hubungan atau komunikasi kepada Allah. Jika jemaat rutin dalam doa tentu hubungannya dengan Allah juga akan baik. Hal ini akan meningkatkan spiritualitas jemaat. Kemudian, jika kita berdoa untuk pemberitaan Injil, kita sudah turut ambil bagian dalam misi pemberitaan Injil itu.
Berdoalah untuk pemberitaan Injil, mendoakan hamba Tuhan dan pelayanannya. Banyak asumsi di kalangan jemaat bahwa hamba Tuhan atau pelayan adalah khususnya untuk melayani dan mendoakan jemaat. Maka doa adalah urusan hamba Tuhan. Itu benar dan hamba Tuhan pasti telah berdoa untuk jemaat dan pelayannnya. Renungan pagi ini menyapa kita agar jemaat berdoa untuk pelayanan hamba Tuhan, agar mereka diberikan kekuatan seperti Paulus yang mempersembahkan hidupnya sepenuhnya untuk memberitakan Kristus. Di beberapa gereja telah ada tim doa yang mendoakan hamba Tuhan dan program gerejanya. Hal seperti ini sangat bagus sehingga hamba Tuhan dan setiap pelayanannya dan program gereja benar-benar untuk kemuliaan Allah. Amin.
Jumat, 28 April 2017
"NEBUKADNEZAR TAKJUB" Renungan Harian Pdt.Lucius T.B.Pasaribu, S.Th
NEBUKADNEZAR TAKJUB:
Daniel DKK Tak Terbakar Oleh Api
Daniel 3:28, "Berkatalah Nebukadnezar: 'Terpujilah Allahnya Sadrakh, Mesakh dan Abednego! Ia telah mengutus malaikat-Nya dan melepaskan hamba-hamba-Nya, yang telah menaruh percaya kepada-Nya, dan melanggar titah raja, dan yang menyerahkan tubuh mereka, karena mereka tidak mau memuja dan menyembah allah mana pun kecuali Allah mereka".
Kisah Daniel dan kawan-kawan (Sadrak, Mesak dan Abednego) dalam pemerintahan Nebukadnezar menjadi inspirasi yang kuat, yang menyalakan motivasi bahwa sehebat apapun tantangan akan ada jalan keluar. Sehebat apapun sikon yang memenjarakan kita tak berkutik, tetaplah berpengharapan bahwa situasi akan bisa berubah. Jangan larut pada keadaan, tetapi tetaplah setia dan beribadah kepada Tuhan. Esok akan ada perubahan.
Kaum Yehuda terbuang ke Babel di bawah pemerintahan Nebukadnezar. Selain diperbudak, kehidupan mereka sangat tertekan dan menderita. Bukan hanya derita fisik namun juga penderitaan rohani (spiritual) karena pemerintah melarang mereka beribadah dan memaksa untuk sujud pada patung dewa emas. Namun dalam penderitaan itu ada hikmat yang memotivasi bahwa Tuhan tidak membiarkan umatNya mengalami penderitaan itu sendirian, tetapi Dia ada dan hadir, menolong dan membebaskan hambaNya. Sadrak, Mesak dan Abednego: tiga orang Yahudi yang cakap yang lulus seleksi penetapan pegawai istana Nebukadnezaar. Mereka di istana cakap dan pandai, kepintaran mereka melebihi dari rata-rata. Kehidupan religious mereka taat dan setia kepada Allah Israel. Di istana rupanya ada persaingan dan melihat ada titik lemah Daniel dkk: setiap kepada Allah dan tidak mau menyembah dewa yang diagungkan Raja Babel tersebut. Atas hal inilah ide untuk menjebak Daniel dkk sangat mantap dan jitu, yaitu dengan menetapkan titah raja agar sujud dan menyembah patung emas yang dipuja dan disembah raja. Barang siapa yang tidak melakukan titah ini akan dihukum mati dengan dibakar hidup-hidup di perapian yang menyala-nyala.
Daniel dkk setia kepada Allah Israel dan tak mau sujud pada patung dewa emas buatan tangan itu. Hal ini membuat Nebukadnezar murka terhadap Daniel dkk dan memerintakan untuk di eksekusi. Maka Daniel dkk pun dieksekusi untuk dibakar hidup-hidup. Mereka digiring dan dicampakkan ke perapian itu, dan karena sedemikian panasnya api itu orang yang ditugaskan mencampakkan mereka ke perapian mati terbakar, namun Daniel dkk tidak terbakar, sehelai rambut pun tak dimakan oleh api. Hal ini membuat Nebukadnezaar takjub dan luar biasa. Tuhan menjaga mereka dan kejadian itu disaksikan oleh raja Nebukadnezar sendiri: mereka yang tiga orang dicampakkan ke perapian menjadi empat. Tuhan mendampingi dan menemani hambaNya dalam penderitaan.
Atas kejadian itulah Nebukadnezar spontan memuji dan memuliakan Allah Israel: Allah yang disembah Daniel dkk. Bukan hanya memuji Allah tetapi Nebukadnezar menerbitkan titah baru yaitu kebebasan beribadah bagi Yahudi di Babelonia. Barang siapa yang menghina Allah yang disembah Daniel dkk akan dipenggal kepalanya dan rumahnya dirobohkan. Itulah hukum yang berat bagi kaum yang melanggar kebebasan beragama di Babilonia. Kaum Yahudi yang selama ini tertekan dan mengalami himpitan kebebasan beribadah akhirnya mendapatkan kebebasan. Daniel dkk mendapat promosi jabatan yang lebih tinggi di Istana Nebukadnezar.
Renungan harian ini menjadi inspirasi bagi kita: sehebat apapun kebencian orang yang hendak melihat kejatuhan kita tetaplah setia, Tuhan tidak membiarkan orang percaya menjalani penderitaan itu sendirian, namun Dia ada dan hadir memberi pertolongan. Sebab kuasa Tuhan jauh lebih hebat dari kehebatan kejahatan. Amin.
Daniel DKK Tak Terbakar Oleh Api
Daniel 3:28, "Berkatalah Nebukadnezar: 'Terpujilah Allahnya Sadrakh, Mesakh dan Abednego! Ia telah mengutus malaikat-Nya dan melepaskan hamba-hamba-Nya, yang telah menaruh percaya kepada-Nya, dan melanggar titah raja, dan yang menyerahkan tubuh mereka, karena mereka tidak mau memuja dan menyembah allah mana pun kecuali Allah mereka".
Kisah Daniel dan kawan-kawan (Sadrak, Mesak dan Abednego) dalam pemerintahan Nebukadnezar menjadi inspirasi yang kuat, yang menyalakan motivasi bahwa sehebat apapun tantangan akan ada jalan keluar. Sehebat apapun sikon yang memenjarakan kita tak berkutik, tetaplah berpengharapan bahwa situasi akan bisa berubah. Jangan larut pada keadaan, tetapi tetaplah setia dan beribadah kepada Tuhan. Esok akan ada perubahan.
Kaum Yehuda terbuang ke Babel di bawah pemerintahan Nebukadnezar. Selain diperbudak, kehidupan mereka sangat tertekan dan menderita. Bukan hanya derita fisik namun juga penderitaan rohani (spiritual) karena pemerintah melarang mereka beribadah dan memaksa untuk sujud pada patung dewa emas. Namun dalam penderitaan itu ada hikmat yang memotivasi bahwa Tuhan tidak membiarkan umatNya mengalami penderitaan itu sendirian, tetapi Dia ada dan hadir, menolong dan membebaskan hambaNya. Sadrak, Mesak dan Abednego: tiga orang Yahudi yang cakap yang lulus seleksi penetapan pegawai istana Nebukadnezaar. Mereka di istana cakap dan pandai, kepintaran mereka melebihi dari rata-rata. Kehidupan religious mereka taat dan setia kepada Allah Israel. Di istana rupanya ada persaingan dan melihat ada titik lemah Daniel dkk: setiap kepada Allah dan tidak mau menyembah dewa yang diagungkan Raja Babel tersebut. Atas hal inilah ide untuk menjebak Daniel dkk sangat mantap dan jitu, yaitu dengan menetapkan titah raja agar sujud dan menyembah patung emas yang dipuja dan disembah raja. Barang siapa yang tidak melakukan titah ini akan dihukum mati dengan dibakar hidup-hidup di perapian yang menyala-nyala.
Daniel dkk setia kepada Allah Israel dan tak mau sujud pada patung dewa emas buatan tangan itu. Hal ini membuat Nebukadnezar murka terhadap Daniel dkk dan memerintakan untuk di eksekusi. Maka Daniel dkk pun dieksekusi untuk dibakar hidup-hidup. Mereka digiring dan dicampakkan ke perapian itu, dan karena sedemikian panasnya api itu orang yang ditugaskan mencampakkan mereka ke perapian mati terbakar, namun Daniel dkk tidak terbakar, sehelai rambut pun tak dimakan oleh api. Hal ini membuat Nebukadnezaar takjub dan luar biasa. Tuhan menjaga mereka dan kejadian itu disaksikan oleh raja Nebukadnezar sendiri: mereka yang tiga orang dicampakkan ke perapian menjadi empat. Tuhan mendampingi dan menemani hambaNya dalam penderitaan.
Atas kejadian itulah Nebukadnezar spontan memuji dan memuliakan Allah Israel: Allah yang disembah Daniel dkk. Bukan hanya memuji Allah tetapi Nebukadnezar menerbitkan titah baru yaitu kebebasan beribadah bagi Yahudi di Babelonia. Barang siapa yang menghina Allah yang disembah Daniel dkk akan dipenggal kepalanya dan rumahnya dirobohkan. Itulah hukum yang berat bagi kaum yang melanggar kebebasan beragama di Babilonia. Kaum Yahudi yang selama ini tertekan dan mengalami himpitan kebebasan beribadah akhirnya mendapatkan kebebasan. Daniel dkk mendapat promosi jabatan yang lebih tinggi di Istana Nebukadnezar.
Renungan harian ini menjadi inspirasi bagi kita: sehebat apapun kebencian orang yang hendak melihat kejatuhan kita tetaplah setia, Tuhan tidak membiarkan orang percaya menjalani penderitaan itu sendirian, namun Dia ada dan hadir memberi pertolongan. Sebab kuasa Tuhan jauh lebih hebat dari kehebatan kejahatan. Amin.
Kamis, 27 April 2017
"KECIL YANG BERTUMBUH" Renungan Harian Pdt.Lucius T.B.Pasaribu, S.Th
KECIL YANG BERTUMBUH
Lukas 13:19, “Ia seumpama biji sesawi, yang diambil dan ditaburkan orang di kebunnya; biji itu tumbuh dan menjadi pohon dan burung-burung di udara bersarang pada cabang-cabangnya."
Pohon sesawi di sini berbeda dengan di Palestina. Sesawi serumpun sayuran atau palawija yang tumbuh dengan ukuran kira-kira 25 cm. Di Palestina, "sesawi" dinamai Brassica nigra atau black mustard (Inggris), pohon tahunan yang tumbuh sampai 5 meter. Acap dipandang tumbuhan liar, tapi bila benihnya ditaburkan akan segera bertumbuh dengan pesat.
Yesus bisa saja memilih jenis pohon besar lain menggambarkan pertumbuhan iman dari bagian terkecil. Tapi tumbuhan sesawi lebih menunjukkan, walau jangkauan pelayanan Yesus nampak kecil di Palestina, namun pelayanan itu akan bertumbuh dan berkembang menjadi besar, tak terbendung, karena pelayanan itu berakar teguh, sehingga padaNya ada hidup, perlindungan, kemurahan dan damai. Inilah pertubuhan yang melampaui imajinasi (Lukas 13:19)
Kita terkesan kepada kehebatan, kebesaran, kekayaan seseorang atau organisasi; biji sesawi menyadarkan kita bahwa kumpulan kecil bisa menjadi besar, berkat, memberi makan, dan melindungi mereka yang dimarjinalkan. Pertumbuhan dahsyat dan menakjubkan ini dinampakkan jemaat Allah yang secara individu maupun kelompok adalah kumpulan kecil, miskin, tidak terpelajar, tidak bangsawan dan hanya sedikit pengikut awal, tetapi mereka dihidupi dan disupport oleh anugerah berkat Tuhan. Mereka adalah petani, nelayan, pemungut cukai, dan miskin yang dirawat Yesus si tukang kayu, menjadi pribadi yang tangguh serta mampu mengasihi dunia. Studi demografis dari 200 negara menunjukkan tahun 2010 terdapat 2,28 milyar orang Kristen di seluruh dunia, sepertiga dari total 6,9 milyar manusia.
Menjadi besar dan sukses, memerlukan strategi dan cara pergerakan yang memakai orang bijak, pintar, handal dan warga terampil, kaya dan hebat; tapi Gereja tidak ditopang jaminan seperti itu. Kuasa Yesus dan iman pasti bertumbuh dahsyat jika menyadari kekecilan dan keterbatasannya. Memang kondisi Yesus yang sederhana acap membuat dunia gagal mempercayaiNya sebagai Mesias. Saat Yesus berkhotbah di kampung-Nya, ia ditolak: “Bukankah Ia ini tukang kayu, anak Maria, saudara Yakobus, Yoses, Yudas dan Simon?..” (Markus 6:3). Mereka kecewa akan kesederhanaan Yesus. Kegagalan paham ini karena dunia menggunakan logika dan karakter dasarnya. Amin.
Lukas 13:19, “Ia seumpama biji sesawi, yang diambil dan ditaburkan orang di kebunnya; biji itu tumbuh dan menjadi pohon dan burung-burung di udara bersarang pada cabang-cabangnya."
Pohon sesawi di sini berbeda dengan di Palestina. Sesawi serumpun sayuran atau palawija yang tumbuh dengan ukuran kira-kira 25 cm. Di Palestina, "sesawi" dinamai Brassica nigra atau black mustard (Inggris), pohon tahunan yang tumbuh sampai 5 meter. Acap dipandang tumbuhan liar, tapi bila benihnya ditaburkan akan segera bertumbuh dengan pesat.
Yesus bisa saja memilih jenis pohon besar lain menggambarkan pertumbuhan iman dari bagian terkecil. Tapi tumbuhan sesawi lebih menunjukkan, walau jangkauan pelayanan Yesus nampak kecil di Palestina, namun pelayanan itu akan bertumbuh dan berkembang menjadi besar, tak terbendung, karena pelayanan itu berakar teguh, sehingga padaNya ada hidup, perlindungan, kemurahan dan damai. Inilah pertubuhan yang melampaui imajinasi (Lukas 13:19)
Kita terkesan kepada kehebatan, kebesaran, kekayaan seseorang atau organisasi; biji sesawi menyadarkan kita bahwa kumpulan kecil bisa menjadi besar, berkat, memberi makan, dan melindungi mereka yang dimarjinalkan. Pertumbuhan dahsyat dan menakjubkan ini dinampakkan jemaat Allah yang secara individu maupun kelompok adalah kumpulan kecil, miskin, tidak terpelajar, tidak bangsawan dan hanya sedikit pengikut awal, tetapi mereka dihidupi dan disupport oleh anugerah berkat Tuhan. Mereka adalah petani, nelayan, pemungut cukai, dan miskin yang dirawat Yesus si tukang kayu, menjadi pribadi yang tangguh serta mampu mengasihi dunia. Studi demografis dari 200 negara menunjukkan tahun 2010 terdapat 2,28 milyar orang Kristen di seluruh dunia, sepertiga dari total 6,9 milyar manusia.
Menjadi besar dan sukses, memerlukan strategi dan cara pergerakan yang memakai orang bijak, pintar, handal dan warga terampil, kaya dan hebat; tapi Gereja tidak ditopang jaminan seperti itu. Kuasa Yesus dan iman pasti bertumbuh dahsyat jika menyadari kekecilan dan keterbatasannya. Memang kondisi Yesus yang sederhana acap membuat dunia gagal mempercayaiNya sebagai Mesias. Saat Yesus berkhotbah di kampung-Nya, ia ditolak: “Bukankah Ia ini tukang kayu, anak Maria, saudara Yakobus, Yoses, Yudas dan Simon?..” (Markus 6:3). Mereka kecewa akan kesederhanaan Yesus. Kegagalan paham ini karena dunia menggunakan logika dan karakter dasarnya. Amin.
Langganan:
Postingan (Atom)