DIKASIHANI UNTUK HIDUP KEKAL
1 Timotius 1:16, “Tetapi justru karena itu aku dikasihani, agar dalam diriku ini, sebagai orang yang paling berdosa, Yesus Kristus menunjukkan seluruh kesabaran-Nya. Dengan demikian aku menjadi contoh bagi mereka yang kemudian percaya kepada-Nya dan mendapat hidup yang kekal".
Mengakui sebagai orang yang paling berdosa adalah pengakuan yang luar biasa. Dosa yang dilakukannya adalah salah memahami siapa Yesus yang sesungguhya, sehingga oleh buah pengertian yang salah itu, ia menganiaya, mengejar, menangkapi dan menyiksa orang Kristen, atas mandat yang diterimaya dari para tokoh agama Yahudi. Dia merasa paling bertanggungjawab membela agama Yahudi, bahkan membela Allah sediri, sehingga Saulus melakukan tindakan kekerasan dan pembunuhan terhadap para pengikut Tuhan. Stefanus sebagai contoh konkret.
Dihubungkan dengan sikap Allah yang mengasihani si pendosa dalam kesabaran, dan yang memberikan hidup kekal, kita perlu bertanya: sejauh mana Tuhan mampu sabar mengampuni keberdosaan kita? (1) Tuhan pernah memberikan perumpamaan orang berhutang, lalu ditanyakan: kepada siapa Tuhan memberikan lebih banyak pengasihanan? Dan siapa yang paling banyak diampuni dosa-dosanya. Jawabannya: mereka yang lebih besar hutang dosanya. (2) Berpikir untuk menghitung kesalahan yang kita lakukan adalah tidakan dan perilaku kita terhadap firman Tuhan dan hukum-hukumNya, tapi yang terbesar adalah sejauh mana kita mengabaikan kasih keselamatan yang dilakukan Yesus Kristus.
Nas ini menegaskan, bahwa kita adalah orang paling beruntung dan orang yang sudah dimpuni Tuhan, sehingga semua dosa dan kejahatan kita tidak lagi diperhitungkan oleh Tuhan Yesus, melainkan kita sudah diampuni dan dosa-dosa kita tidak Dia ingat lagi. Pengampunan yang kita terima bukan karena kita membelinya dengan moralitas, amal, segala perbuatan baik dan semua doa-doa ritual kita, tidak sama sekali.Tetapi karena Tuhan berinisiatif dan berkarya melakukan pengorbanan diriNya di salib.
Itulah sukacita sebagai orang percaya. Kita sudah diseberangkan dari maut ke dalam hidup kekal. Kita menjadi harapan bagi semua orang untuk turut diampuni, sebab semua orang diberi peluang yang sama, asalkan menerima Yesus sebagai Tuhan dan Juruselamatnya. Mari bersyukur akan kasih pengampunanNya yang luar biasa. Mari jangan sia-siakan kasih sayangNya, tapi bagikanlah kepada orang lain. Amin.
Huria Kristen Batak Protestan (HKBP) Sutoyo Jln. LetJend. Sutoyo, Jakarta Timur - Indonesia
Minggu, 05 Maret 2017
Sabtu, 04 Maret 2017
"JANJI DAN PENGGENAPAN" Renungan Harian Pdt.Lucius T.B.Pasaribu, S.Th
JANJI DAN PENGGENAPAN
1 Rajaraja 8:24, “Engkau yang tetap berpegang pada janjiMu terhadap hambaMu Daud, ayahku, dan yang telah menggenapi dengan tanganMu apa yang Kaufirmankan dengan mulutMu, seperti yang terjadi pada hari ini.”
ALLAH membuat janji dengan raja Daud, dan janji itu telah digenapi, baik kepada Daud sendiri, dan kesetiaan yang sama diharapkan Salomo atas dirinya. Itulah kepribadian Allah: selalu setia dengan apa yang dijanjikanNya. Namun tidak demikian denga manusia. Umat Israel sering melalaikan janjinya sehingga mereka hidup dalam kesesatan dan pemberontakan kepada Allah.
Kalau Allah berjanji, maka umat Israel mengenal tradisi ini dinamai "Karat Berit", memotong domba perjanjian. Pada saat itu darah domba dicurahkan ke tanah, sambil mengatakan: Darah ini adalah perjanjian hidup dengan Allah. Kalau kamu setia dengan janji ini, kamu akan hidup, tetapi jikalau kamu mengingkarinya, maka darahmu juga akan dicurahkan seperti darah domba ini. Artinya, resiko janji itu adalah antara HIDUP dan MATI.
Kalau kita perbandingkan dengan tradisi orang Batak, ada kesamaannya, yang memakai ikan sebagai medium perjanjian: “Dengke ni Sabulan tu tabona tu tonggina, manang ise sioloi padan tu sonangna tu gabena, alai manang ise siose padan tu ripurna tu magona". Dibayangan seperti ikan itu hidup dan manis, maka kehidupan bagi orang yang setia akan janji itu, tetapi ikan yang mati dan busuk merupakan gambaran resiko bagi yang mengkhianati janjinya. Ancaman itu agaknya membuat orang Batak lebih mengingat ikatan "parpadanan" dari ikatan darah. Dikatakan “Togu urat ni bulu toguan urat ni padang, togu ni ihot ni uhum tumoguan niihot ni padan.”
Dalam hidup kekristenan kita, kita sudah mengadakan perjanjian dengan Allah, mulai dari janji semasa di kandungan, saat dibaptiskan, mengikuti sidi, menikah, menerima tohonan di gereja maupun di keluarga, pada saat perjamuan kudus, dan janji-janji secara spontan dalam berbagai kejadian. Pertanyaan serius: masihkan kita setia dengan perjanjian kita? Apakah kita menghidupi perjanjian itu sebagaimana Allah setia dan menggenapinya?
Marilah setia, konsisten dan taat atas janji yang kita adakan, sebab Allah sudah memberi keteladanan bagi kita. Janji itulah kekuatan dan kepribadian kita. Dengan menaati janji itu kita akan hidup dan diberkati. Tuhan itu menghidupi kita dengan janjiNya yang agung dan rahmani. Mari melakukannya sebagai kepribadian orang percaya. Amin.
1 Rajaraja 8:24, “Engkau yang tetap berpegang pada janjiMu terhadap hambaMu Daud, ayahku, dan yang telah menggenapi dengan tanganMu apa yang Kaufirmankan dengan mulutMu, seperti yang terjadi pada hari ini.”
ALLAH membuat janji dengan raja Daud, dan janji itu telah digenapi, baik kepada Daud sendiri, dan kesetiaan yang sama diharapkan Salomo atas dirinya. Itulah kepribadian Allah: selalu setia dengan apa yang dijanjikanNya. Namun tidak demikian denga manusia. Umat Israel sering melalaikan janjinya sehingga mereka hidup dalam kesesatan dan pemberontakan kepada Allah.
Kalau Allah berjanji, maka umat Israel mengenal tradisi ini dinamai "Karat Berit", memotong domba perjanjian. Pada saat itu darah domba dicurahkan ke tanah, sambil mengatakan: Darah ini adalah perjanjian hidup dengan Allah. Kalau kamu setia dengan janji ini, kamu akan hidup, tetapi jikalau kamu mengingkarinya, maka darahmu juga akan dicurahkan seperti darah domba ini. Artinya, resiko janji itu adalah antara HIDUP dan MATI.
Kalau kita perbandingkan dengan tradisi orang Batak, ada kesamaannya, yang memakai ikan sebagai medium perjanjian: “Dengke ni Sabulan tu tabona tu tonggina, manang ise sioloi padan tu sonangna tu gabena, alai manang ise siose padan tu ripurna tu magona". Dibayangan seperti ikan itu hidup dan manis, maka kehidupan bagi orang yang setia akan janji itu, tetapi ikan yang mati dan busuk merupakan gambaran resiko bagi yang mengkhianati janjinya. Ancaman itu agaknya membuat orang Batak lebih mengingat ikatan "parpadanan" dari ikatan darah. Dikatakan “Togu urat ni bulu toguan urat ni padang, togu ni ihot ni uhum tumoguan niihot ni padan.”
Dalam hidup kekristenan kita, kita sudah mengadakan perjanjian dengan Allah, mulai dari janji semasa di kandungan, saat dibaptiskan, mengikuti sidi, menikah, menerima tohonan di gereja maupun di keluarga, pada saat perjamuan kudus, dan janji-janji secara spontan dalam berbagai kejadian. Pertanyaan serius: masihkan kita setia dengan perjanjian kita? Apakah kita menghidupi perjanjian itu sebagaimana Allah setia dan menggenapinya?
Marilah setia, konsisten dan taat atas janji yang kita adakan, sebab Allah sudah memberi keteladanan bagi kita. Janji itulah kekuatan dan kepribadian kita. Dengan menaati janji itu kita akan hidup dan diberkati. Tuhan itu menghidupi kita dengan janjiNya yang agung dan rahmani. Mari melakukannya sebagai kepribadian orang percaya. Amin.
Jumat, 03 Maret 2017
"BERPENGHARAPAN" Renungan Harian Pdt.Lucius T.B.Pasaribu, S.Th
BERPENGHARAPAN
Roma 8:23-24, “Dan bukan hanya mereka saja, tetapi kita yang telah menerima karunia sulung Roh, kita juga mengeluh dalam hati kita sambil menantikan pengangkatan sebagai anak, yaitu pembebasan tubuh kita. Sebab kita diselamatkan dalam pengharapan. Tetapi pengharapan yang dilihat, bukan pengharapan lagi; sebab bagaimana orang masih mengharapkan apa yang dilihatnya.”
MENGELUH merupakan hal lazim dalam diri kita, walau kita orang percaya sudah memiliki Roh Kudus dan berkat-berkat-Nya. Dua alasan mengapa itu terjadi. (1) Kita hidup di dunia yang berdosa, yang acap menyusahkan. Di sini kita alami ketidaksempurnaan, rasa sakit, dan kemalangan. Keluhan itu mengungkapkan kesedihan kita sesungguhnya. “Selama masih diam di dalam kemah ini, kita mengeluh oleh beratnya tekanan,...” (2) Kita merindukan penebusan penuh dan kepenuhan Roh Kudus pada saat kebangkitan. Kita merindukan kemuliaan yang akan dinyatakan dan hak istimewa dari hak penuh sebagai anak (2 Korintus 5:4).
Bagaimana kita berpengharapan? Kita dengan sakit seberat apapun, bila masih ada pengharapan, maka pengharapan itu akan menuntun kita menuju kesembuhan. Kita dalam segala kesulitan, apabila ada harapan, itu akan membuat kita lebih optimis. Pengharapan adalah energi terbesar bagi orang percaya. Pengharapan mengajari kita akan perkara-perkara yang sulit dan misterius menjadi hal yang sangat rasional.
Hebatnya, pengharapan kita bukan pada hal-hal materi dan duniawi saja, tapi pada keselamatan yang dijanjikan oleh Allah dalam Yesus Kristus. Pengharapan itu juga melatih kita tabah, bersabar, tahan uji dan tetap yakin akan kasih Tuhan. Memang kita tidak layak meminta agar jangan ada masalah dan kesulitan, tapi orang percaya meminta ketabahan menghadapi semua tantangan. Itulah buah pengharapan kita. Amin.
Roma 8:23-24, “Dan bukan hanya mereka saja, tetapi kita yang telah menerima karunia sulung Roh, kita juga mengeluh dalam hati kita sambil menantikan pengangkatan sebagai anak, yaitu pembebasan tubuh kita. Sebab kita diselamatkan dalam pengharapan. Tetapi pengharapan yang dilihat, bukan pengharapan lagi; sebab bagaimana orang masih mengharapkan apa yang dilihatnya.”
MENGELUH merupakan hal lazim dalam diri kita, walau kita orang percaya sudah memiliki Roh Kudus dan berkat-berkat-Nya. Dua alasan mengapa itu terjadi. (1) Kita hidup di dunia yang berdosa, yang acap menyusahkan. Di sini kita alami ketidaksempurnaan, rasa sakit, dan kemalangan. Keluhan itu mengungkapkan kesedihan kita sesungguhnya. “Selama masih diam di dalam kemah ini, kita mengeluh oleh beratnya tekanan,...” (2) Kita merindukan penebusan penuh dan kepenuhan Roh Kudus pada saat kebangkitan. Kita merindukan kemuliaan yang akan dinyatakan dan hak istimewa dari hak penuh sebagai anak (2 Korintus 5:4).
Bagaimana kita berpengharapan? Kita dengan sakit seberat apapun, bila masih ada pengharapan, maka pengharapan itu akan menuntun kita menuju kesembuhan. Kita dalam segala kesulitan, apabila ada harapan, itu akan membuat kita lebih optimis. Pengharapan adalah energi terbesar bagi orang percaya. Pengharapan mengajari kita akan perkara-perkara yang sulit dan misterius menjadi hal yang sangat rasional.
Hebatnya, pengharapan kita bukan pada hal-hal materi dan duniawi saja, tapi pada keselamatan yang dijanjikan oleh Allah dalam Yesus Kristus. Pengharapan itu juga melatih kita tabah, bersabar, tahan uji dan tetap yakin akan kasih Tuhan. Memang kita tidak layak meminta agar jangan ada masalah dan kesulitan, tapi orang percaya meminta ketabahan menghadapi semua tantangan. Itulah buah pengharapan kita. Amin.
Kamis, 02 Maret 2017
"WAJAH ALLAH" Renungan Harian Pdt.Lucius T.B.Pasaribu, S.Th
WAJAH ALLAH
Keluaran 33:20, “Lagi firman-Nya: "Engkau tidak tahan memandang wajah-Ku, sebab tidak ada orang yang memandang Aku dapat hidup.”
WAJAH ALLAH adalah wibawa Allah, yang memancarkan kemuliaan dan keagungan yang tidak dapat disetarakan dengan apa pun. Pada wajah itu ada keagungan dan ke-maha-mutabir-an (Batak: hasongkalon) yang tidak dapat disentuh oleh manusia. Tapi para teolog berpendapat: Musa dapat berhadap-hadapan muka dengan Allah. Padahal sesudah nas itu Tuhan berfirman: "Ada suatu tempat dekat-Ku, di mana engkau dapat berdiri di atas gunung batu; apabila kemuliaan-Ku lewat, maka Aku akan menempatkan engkau dalam lekuk gunung itu dan Aku akan menudungi engkau dengan tangan-Ku, sampai Aku berjalan lewat. Kemudian Aku akan menarik tangan-Ku dan engkau akan melihat belakang-Ku..."(Kel. 33:21-23). Satu toleransi Allah bagi Musa.
Di sini ada perlakuan khusus bagi Musa, Allah mau menampakkan punggung-Nya. Dan itu tetap menegaskan “Tuhan tidak pernah dilihat manusia dan manusia memang tidak dapat melihat-Nya” (1 Tim. 6:16). Tapi di tiga nas ini pernyataan itu kurang pas. Kel. 33:11 “Tuhan berbicara kepada Musa dengan berhadapan muka seperti seorang berbicara kepada temannya”. Kel. 24:10 “Lalu mereka (Musa, Harun, dan 70 orang lainnya) melihat Allah.” Kej. 32:30 “Yakub menamai tempat itu Pniel, sebab katanya: ”Aku telah melihat Allah berhadapan muka,..” Di sana ada kedekatan hubungan dan pengalaman spiritual Musa dengan Allah.
Dalam ungkapan khas Ibrani dikenal istilah "Panim El-Panim" yang artinya “wajah kepada wajah” menjelaskan hubungan tatap muka antara seseorang kepada temannya. Di sana ada keakraban, persekutuan yang luar biasa sehingga tidak ada sesuatu pun yang tersembunyi. Itulah pengalaman Yakub di Pniel, saat seseorang malaikat bergumul dengan dia. Jadi malaikat itulah yang menjadi wajah Allah bagi dia di sana.
Dalam diri Yesus Kristus kita melihat wajah Allah. “Barangsiapa menyam-but kamu, ia menyambut Aku, dan barangsiapa menyambut Aku, ia menyambut Dia yang mengutus Aku.” (Mat. 10:40). Menyambut adalah menerima, bertemu muka dan bergaul yang memberikan hidup kekal. “Inilah kehendak Bapa-Ku, yaitu supaya setiap orang, yang melihat Anak dan yang percaya kepada-Nya beroleh hidup yang kekal,.” (Yoh. 6:40) Inilah makna baru memandang wajah Allah, yakni Yesus Kristus, yang sudah merobek tirai Bait Suci, agar kita dapat langsung bergaul dengan Allah, dan beroleh hidup kekal. Mari, pandanglah wajah Yesus. Amin.
Keluaran 33:20, “Lagi firman-Nya: "Engkau tidak tahan memandang wajah-Ku, sebab tidak ada orang yang memandang Aku dapat hidup.”
WAJAH ALLAH adalah wibawa Allah, yang memancarkan kemuliaan dan keagungan yang tidak dapat disetarakan dengan apa pun. Pada wajah itu ada keagungan dan ke-maha-mutabir-an (Batak: hasongkalon) yang tidak dapat disentuh oleh manusia. Tapi para teolog berpendapat: Musa dapat berhadap-hadapan muka dengan Allah. Padahal sesudah nas itu Tuhan berfirman: "Ada suatu tempat dekat-Ku, di mana engkau dapat berdiri di atas gunung batu; apabila kemuliaan-Ku lewat, maka Aku akan menempatkan engkau dalam lekuk gunung itu dan Aku akan menudungi engkau dengan tangan-Ku, sampai Aku berjalan lewat. Kemudian Aku akan menarik tangan-Ku dan engkau akan melihat belakang-Ku..."(Kel. 33:21-23). Satu toleransi Allah bagi Musa.
Di sini ada perlakuan khusus bagi Musa, Allah mau menampakkan punggung-Nya. Dan itu tetap menegaskan “Tuhan tidak pernah dilihat manusia dan manusia memang tidak dapat melihat-Nya” (1 Tim. 6:16). Tapi di tiga nas ini pernyataan itu kurang pas. Kel. 33:11 “Tuhan berbicara kepada Musa dengan berhadapan muka seperti seorang berbicara kepada temannya”. Kel. 24:10 “Lalu mereka (Musa, Harun, dan 70 orang lainnya) melihat Allah.” Kej. 32:30 “Yakub menamai tempat itu Pniel, sebab katanya: ”Aku telah melihat Allah berhadapan muka,..” Di sana ada kedekatan hubungan dan pengalaman spiritual Musa dengan Allah.
Dalam ungkapan khas Ibrani dikenal istilah "Panim El-Panim" yang artinya “wajah kepada wajah” menjelaskan hubungan tatap muka antara seseorang kepada temannya. Di sana ada keakraban, persekutuan yang luar biasa sehingga tidak ada sesuatu pun yang tersembunyi. Itulah pengalaman Yakub di Pniel, saat seseorang malaikat bergumul dengan dia. Jadi malaikat itulah yang menjadi wajah Allah bagi dia di sana.
Dalam diri Yesus Kristus kita melihat wajah Allah. “Barangsiapa menyam-but kamu, ia menyambut Aku, dan barangsiapa menyambut Aku, ia menyambut Dia yang mengutus Aku.” (Mat. 10:40). Menyambut adalah menerima, bertemu muka dan bergaul yang memberikan hidup kekal. “Inilah kehendak Bapa-Ku, yaitu supaya setiap orang, yang melihat Anak dan yang percaya kepada-Nya beroleh hidup yang kekal,.” (Yoh. 6:40) Inilah makna baru memandang wajah Allah, yakni Yesus Kristus, yang sudah merobek tirai Bait Suci, agar kita dapat langsung bergaul dengan Allah, dan beroleh hidup kekal. Mari, pandanglah wajah Yesus. Amin.
Rabu, 01 Maret 2017
"NAMAMU TERDAFTAR DI SURGA" Renungan Harian Pdt.Lucius T.B.Pasaribu, S.Th
NAMAMU TERDAFTAR DI SURGA
Lukas 10: 20 "Namun demikian janganlah bersukacita karena roh-roh itu takluk kepadamu, tetapi bersukacitalah karena namamu ada terdaftar di sorga.”
MENGALAHKAN atau menaklukkan “penguasa” yang selama ini menakut-nakuti kita, adalah suatu kemenangan besar. Siapa tidak senang kalau setan-setan takluk demi nama Yesus. Begitulah laporan ketujuh puluh murid yang kembali dengan berita kemenangan. Mereka merasa begitu hebat dan perkasa, seolah tidak ada lagi setan yang berani mengganggu misi pelayanan perjuangan mereka. Akan tetapi sangat berbeda dengan kegembiraan itu, Yesus berkata kepada mereka: "Aku melihat Iblis jatuh seperti kilat dari langit".
Sungguh, banyak hamba Tuhan yang mendapat kemenangan seperti itu. Sejak masa penginjilan dimulai, berkali-kali para penginjil di Tanah Batak diperhadapkan dengan kuasa animisme, dinamisme (Batak: hasipele-beguon), perdukunan dan berbagai kejahatan yang merupakan pekerjaan roh-roh kegelapan menyesatkan orang Batak. Pada perjumpaan itu para penginjil diberi kuasa untuk menginjak ular dan kalajengking dan kuasa untuk menahan kekuatan musuh, agar tidak ada yang akan membahayakan mereka. Itu terjadi di daerah-daerah penginjilan, dan dalam kehidupan sekarang. Namun sepertinya “keberhasilan” sedemikian tidaklah begitu penting bagi kita. Yang terpenting adalah “keselamatan” kita sendiri.
Yesus menegaskan: “Namun demikian janganlah bersukacita karena roh-roh itu takluk kepadamu, tetapi bersukacitalah karena namamu ada terdaftar di sorga." Menjai pemenang, itu sangat bagus. Namun menjadi orang yang dimahkotai oleh kemenangan itu akan lebih bermakna dan berguna menjadi kebahagiaan kita. Ibarat seorang petarung tinju dunia: mengkanvaskan lawan hingga menang KO adalah salah satu impian kita, tetapi akan lebih membahagiakan jikalau nama kita terdaftar sebagai petinju terbaik serta mendapat medali dan bonus besar.
Kuasa Yesus melalui kematian dan kebangkitanNya sudah memberi jaminan penyertaan bagi kita senantiasa, bahwa kita akan dikuatkan, didampingi dan dimenangkan untuk melwan kuasa-kuasa dunia ini. Namun yang lebih berhaga bagi kita adalah jaminan bahwa kita mempunyai tempat di surga, sebagai orang-orang yang dimenangkan. Nama kita terdaftar dalam akte baptis, terdaftar di catatan sipil, terdaftar sebagai penerima penghargaan, semua itu merupakan tanda keikutserta-an kita di sana, demikianlah kalau nama kita terdaftar di surga, maka kepastian akan hidup kekal dan surgawi sudah kita miliki. Amin.
Lukas 10: 20 "Namun demikian janganlah bersukacita karena roh-roh itu takluk kepadamu, tetapi bersukacitalah karena namamu ada terdaftar di sorga.”
MENGALAHKAN atau menaklukkan “penguasa” yang selama ini menakut-nakuti kita, adalah suatu kemenangan besar. Siapa tidak senang kalau setan-setan takluk demi nama Yesus. Begitulah laporan ketujuh puluh murid yang kembali dengan berita kemenangan. Mereka merasa begitu hebat dan perkasa, seolah tidak ada lagi setan yang berani mengganggu misi pelayanan perjuangan mereka. Akan tetapi sangat berbeda dengan kegembiraan itu, Yesus berkata kepada mereka: "Aku melihat Iblis jatuh seperti kilat dari langit".
Sungguh, banyak hamba Tuhan yang mendapat kemenangan seperti itu. Sejak masa penginjilan dimulai, berkali-kali para penginjil di Tanah Batak diperhadapkan dengan kuasa animisme, dinamisme (Batak: hasipele-beguon), perdukunan dan berbagai kejahatan yang merupakan pekerjaan roh-roh kegelapan menyesatkan orang Batak. Pada perjumpaan itu para penginjil diberi kuasa untuk menginjak ular dan kalajengking dan kuasa untuk menahan kekuatan musuh, agar tidak ada yang akan membahayakan mereka. Itu terjadi di daerah-daerah penginjilan, dan dalam kehidupan sekarang. Namun sepertinya “keberhasilan” sedemikian tidaklah begitu penting bagi kita. Yang terpenting adalah “keselamatan” kita sendiri.
Yesus menegaskan: “Namun demikian janganlah bersukacita karena roh-roh itu takluk kepadamu, tetapi bersukacitalah karena namamu ada terdaftar di sorga." Menjai pemenang, itu sangat bagus. Namun menjadi orang yang dimahkotai oleh kemenangan itu akan lebih bermakna dan berguna menjadi kebahagiaan kita. Ibarat seorang petarung tinju dunia: mengkanvaskan lawan hingga menang KO adalah salah satu impian kita, tetapi akan lebih membahagiakan jikalau nama kita terdaftar sebagai petinju terbaik serta mendapat medali dan bonus besar.
Kuasa Yesus melalui kematian dan kebangkitanNya sudah memberi jaminan penyertaan bagi kita senantiasa, bahwa kita akan dikuatkan, didampingi dan dimenangkan untuk melwan kuasa-kuasa dunia ini. Namun yang lebih berhaga bagi kita adalah jaminan bahwa kita mempunyai tempat di surga, sebagai orang-orang yang dimenangkan. Nama kita terdaftar dalam akte baptis, terdaftar di catatan sipil, terdaftar sebagai penerima penghargaan, semua itu merupakan tanda keikutserta-an kita di sana, demikianlah kalau nama kita terdaftar di surga, maka kepastian akan hidup kekal dan surgawi sudah kita miliki. Amin.
Langganan:
Postingan (Atom)


























